Pendahuluan
Latar Belakang
Pelaksanaan
pendidikan di dunia memiliki implementasi yang berbeda-beda di setiap negara.
Namun, United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization
(UNESCO) mengurutkanya menggunakan metoda EFA Development Index (EDI). EDI
adalah sebuah indeks komposit yang menyediakan keseluruhan penilaian sistem
pendidikan suatu negara yang mengacu pada program Education For All (EFA).
Tolak ukur yang dijadikan ukuran penghitungan, antara lain pelaksanaan
pendidikan dasar, tingkat melek huruf di atas 15 tahun, rasio kasar tingkat
melek huruf usia dewasa, kualitas pendidikan. (Report, 2011)
Dalam data tersebut, pembagian
negara dibagi menjadi tiga kelompok, yakni high, medium, dan low.
Untuk kelompok dengan indeks high atau yang tinggi, diisi oleh
negara-negara maju antara lain Jepang, Inggris, Jerman, Australia, Italia.
Namun untuk Amerika Serikat, yang mengklaim sebagai Negara Adidaya, hanya duduk
di peringkat ke-33. Sementara Arab Saudi, sebagai negara raja minyak, duduk di
peringkat ke-46. Negara lain yang masuk dalam kelompok ini, antara lain
Cile, Bahrain, dan Yordania. Untuk kelompok medium atau menengah, antara
lain diisi oleh negara Saint Lucia, Malaysia, Panama, Indonesia, dan
Libanon.Untuk kategori negara kelompok low atau rendah, antara lain
Uganda, Yaman, Ethiopia, Nigeria, dan Maroko. Berikut 20 negara dengan tingkat
pendidikan tertinggi di dunia, seperti dikutip dari Education for All Global
Monitoring Report 2011, UNESCO, Selasa (23/10/2012);
1. Jepang
2. Inggris
3. Norwegia
4. Kazakhstan
5. Prancis
6. Italia
7. Switzerland
8. Kroasia
9. Belanda
10. Slovenia
11. Selandia Baru
12. Spanyol
13. Jerman
14. Kuba
15. Australia
16. Finlandia
17. Denmark
18. Swedia
19. Siprus
20. Estonia.
Menurut WEF . Commited to Improving The State of The
Word Education for the Global Competitivenes Index 2012-2013, UNESCO,
No
|
Bidang
|
Australia
|
Indonesia
|
Value
|
Rank/144
|
Value
|
Rank/144
|
1
2
3
4
5
6
7
8
|
Quality of primary education
Primary education enrollment
Secondary education
enrollmen
Tertiary education
enrollment
Quality of the educational
system
Quality of math and science education Quality of management schools
Internet access in schools
|
4,1
96,0
77,2
23,1
4,1
4,4
4,2
4,5
|
16
36
1
9
15
24
12
18
|
4,1
96,0
77,2
23,1
4,1
4,4
4,2
4,5
|
60
44
95
85
47
45
70
56
|
Berdasarkan data dalam Education For All (EFA) Global Monitoring Report 2011: The Hidden Crisis, Armed Conflict and
Education yang dikeluarkan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan
Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) yang diluncurkan di New York,
Senin (1/3/2011), indeks pembangunan pendidikan atau education development
index (EDI) berdasarkan data tahun 2008 adalah 0,934. Nilai itu menempatkan
Indonesia di posisi ke-69 dari 127 negara di dunia. EDI dikatakan tinggi jika
mencapai 0,95-1. Kategori medium berada di atas 0,80, sedangkan kategori rendah
di bawah 0,80. Total nilai EDI itu diperoleh dari rangkuman
perolehan empat kategori penilaian, yaitu:
- Angka partisipasi pendidikan dasar,
- Angka melek huruf pada usia 15 tahun ke atas,
- Angka partisipasi menurut kesetaraan jender,
- Angka bertahan siswa hingga kelas V sekolah dasar
(SD).
Penurunan EDI Indonesia
yang cukup tinggi tahun ini terjadi terutama pada kategori penilaian angka
bertahan siswa hingga kelas V SD. Kategori ini untuk menunjukkan kualitas
pendidikan di jenjang pendidikan dasar yang siklusnya dipatok sedikitnya lima
tahun.
Berbicara tentang pendidikan kita semua pasti sudah tahu bahwa betapa pentingnya pendidikan tersebut. Pendidikan, kemampuan, pengetahuan
merupakan salah satu modal yang kita miliki untuk hidup . Mengapa dikatakan
demikian? hal pertama yang dilihat bila
kita ingin mengajukan surat lamaran
perkerjaan? kebutuhkan ketika ingin memulai suatu
bisnis atau usaha? Tentu saja pendidikan, kemampuan, wawasan dan pengetahuanlah
yang kita butuhkan. Di dalam bangku pendidikan banyak sekali hal yang kita
dapatkan. Sepertinya kesadaran akan pentingnya pendidikan perlu ditingkatkan. Pendidikan merupakan segala bidang penghidupan, dalam
memilih dan membina hidup yang baik, yang sesuai dengan martabat manusia”. Begitu
pentingnya pendidikan, sehingga suatu bangsa dapat diukur apakah bangsa itu
maju atau mundur, karna seperti yang kita ketahui bahwa suatu Pendidikan
tentunya akan mencetak Sumber Daya Manusia yang berkualitas baik dari segi
spritual, intelegensi dan skill dan pendidikan merupakan proses mencetak
generasi penerus bangsa. Apabila output dari proses pendidikan ini gagal maka
sulit dibayangkan bagaimana dapat mencapai kemajuan.
Didalam
UU No.20/2003 tentang sistem pendidikan Nasional, tercantum pengertian pendidikan:
“pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran
agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya sehingga memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,
akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan oleh dirinya, masyarakat, bangsa
dan negara” Namun satu pertanyaan, sudahkah pendidikan kita seperti yang
tercantum dalam UU tersebut?
REPUBLIKA.CO.ID, tujuh penyebab kenapa mutu pendidikan di Indonesia
berkurang : (1). Pembelajaran hanya pada buku paket, (2).Mengajar Satu Arah , (3).
Kurangnya Sarana Belajar , (4). Aturan yang Mengikat , (5). Guru tak Menanamkan
Diskusi Dua Arah , (6). Metode Pertanyaan
Terbuka tak Dipakai (7). Budaya Mencontek
Dengan
kelebihandan kekurangan dari negara
Australia dan negara Indonesia akan sistem pendidikan maka dikajilah
perbandingan sistem pendidikan antara negara Australia dan negara Indonesia.
Rumusan masalah
- Apa Perbedaan Kurikulum Pendidikan
di Indonesia dengan Pendidikan d Australia ?
- Apa kelebihan Kurikulum Pendidikan
di Australia dengan Pendidikan di Indonesia ?
- Apa Kekurangan Kurikulum Pendidikan
di Indonesia dengan Pendidikan di Australia ?
Tujuan
- Untuk mengetahui Perbedaan
kurikulum Pendidikan di Indonesia dengan Pendidikan d Australia
- Untuk mengetahui kelebihan kurikulum
Pendidikan di Australia dengan Pendidikan di Indonesia
- Untuk Mengetahui Kekurangan kurikulum
Pendidikan di Indonesia dengan Pendidikan di Australia
Manfaat
Dengan mengetahui perbedaan,
kelebihan dan kekurangan dari masing-masing negara diharapkan :
1.
Guru bisa berinovasi lebih banyak
dalam sistem pendidikan khususnya dalam
pembelajaran kimia di SMA
2.
Proses Pembelajaran bisa menjadi lebih
baik
3.
Hasil pembelajaran meningkat
Pembahasan
Potret Sistem Pemerintahan
Australia merupakan suatu Negara
dengan demokrasi parlementer, anggota persemakmuran dan secara formal tunduk
pada kekuasaan raja dan ratu Inggris yang diwakili oleh seorang Gubernur ke
enam negara bagiannya, semua bagiannya bersama-sama membentuk suatau Federasi”
persemakmuran Australia (Commanwealth of Australia)”. (Nur Agustia Syah, 2001)
Pemerintahan
Australia didasarkan pada parlemen yang dipilih secara populer dengan dua
majelis: dewan perwakilan dan senad. Para menteri yang diangkat dari kedua
majelis ini menjalankan fungsi eksklusif, dan keputusan kebijakan dibuat dalam
rapat-rapat kabinet. Selain pengumuman keputusan diskusi kabinet
disebarluaskan. Para menteri terikat oleh prinsip solideritas kabinet, yang
sangat mencerminkan model Inggris yakni kabinet bertanggungjawab kepada
parlemen.
Australia dan Multikulturalisme
Australia adalah Negara yang sangat
multikultural. Masyarakat Australia adalah masyarakat multietnik, multinasionality.
Saat ini penduduknya mempunyai latar belakang dari seluruh negara di dunia.
Hampir satu dari empat penduduk Australia yang berjumlah sekitar 22 juta jiwa
lahir di luar negeri, dan 43 % nya mempunyai salah satu atau kedua orang tua
yang lahir di luar negeri.
Secara keseluruhan, masyarakat australia
menggunakan lebih dari 200 bahasa, termasuk 45 bahasa penduduk asli dan sekitar
15 % dari masayarakat Australia menggunakan satu bahasa lain selain bahasa
Inggris. Bahasa yang paling banyak digunakan selain bahasa Inggris adalah
Italia, Yunani, Kanton, Arab, Vietnam dan mandarin.
Latar belakang imigran yang datang ke
Australia bermacam-macam. Sebagian besar diantara mereka datang ke Australia
sebagai pengungsi atau pencari suaka dari daerah-daerah konflik. Walaupun ada
beberapa yang menetap karena sebelumnya pernah belajar atau bekerja di
Australia. (Nur Agustia Syah, 2001)
Kondisi Demografi dan Potensi Income Negara
Letak astronomi benua Australia: 113
BT-155BT dan 10 LS-43LS, luas benua Australia 7.686. 850 km2, Ibu
kota Australia Canberra, batas-batas benua Australia diantaranya:
-
Barat : Samudera Hindia (Samudera Indonesia).
-
Timur : Samudera Pasifik.
-
Utara : Laut Timur dan Laut Arafuru.
-
Selatan : Samudera Hindia.
Negara-negara bagian Australia
diantaranya : New South Walles ibukota Sydney, Queensland ibukota Brisbane,
Australia Barat ibukota Perth, Australia Selatan ibukota Adelaide, Victoriah
ibulota Melbrone dan sebagainya. Australia
sangat jarang penduduknya, berpenduduk hanya 18.783.551 jiwa(world almanac
2000). Tetapi oleh karena itu daerah bagian dalam australia yang sangat kering
dan tandus, penduduk berkonsentrasi di daerah-daerah pantai yang tidak begitu
luas. Lebih dari 70% penduduk tinggal di daerah perkotaan, terutama di dua kota
besar sydney dan melbourne yang menampung hampir 40% dari seluruh penduduk
australia. Tiga kota besar lainnya brisbane, perth dan adelaide menampung
kurang lebih 21%. Terkonsentrasinya penduduk di ibukota-ibukota bagian menunjukkan
pula sistem administrasi pemerintahan yang tersnetralisasi, termasuk pula
sistem pendidikannya. (Nur Agustia Syah, 2001)
Tujuan
Pendidikan
Tujuan Pendidikan Indonesia sesuai dengan
Pembukaan UDD 1945 “mencerdaskan kehidupan bangsa sedangkan tujuan Pendidikan
di Australia perlu adanya kesimbangan antara
pelayanan kebutuhan invidu dan kebutuhan masyarakat. Pada level sekolah
titik tekan pada pengembangan potensi siswa sebaik mungkin, sedangkan pada
level tinggi tekanan yang besar diarahkan pada pencapaian kebutuhan pendidikan
untuk kepentingan ekonomi dan masyarakat. (Nur Agustia Syah, 2001)
Filsafat Pendidikan Yang
Dijadikan Dasar Pengembangan Pendidikan
Orang australia bangga akan
percampuran multi budaya yang ada di kota-kota mereka, baik besar maupun kecil
mereka sangat menghargai perbedaan tidak ada larangan bagi setiap orang yang
beragama untuk menjalankan agamanya masing-masing. Dengan dasar inilah
pengembangan pendidikan di australia diserahkan kepada masing-masing sekolah
untuk mengembangkan pendidikannya, disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat
lokal. Pemerintah hanya memberi pedoman yang berupa tujuan umum pendidikan yang
kemudian dikembangkan oleh masing-masing lembaga. Sedangkan untuk lembaga
pendidikan agama dikelola oleh pihak swasta tidak ada kurikulum yang pasti
dalam pendidikan agama.
School Council dan
Komite Sekolah
“The School Council discussed a number of issues, including the need for
security fences, parent ethos statement, school charges, children’s personal
items and the school’s curriculum priorities for 2004″ (School Council, Gibbs
Street Primary School, Australia Barat) . Salah satu aspek penting tentang
pendidikan yang perlu dibandingkan adalah mengenai perbedaan antara School
Council di Australia dan Komite Sekolah di Indonesia. Aspek ini amat penting,
mengingat sekolah, keluarga dan
masyarakat merupakan satu dari tripusat pendidikan, Sebagaimana dalam
pembuakaan UUD 1945 “ mencerdaskan kehidupan bangsa”
a. Keterlibatan Orangtua dan Masyarakat
Keterlibatan dan peran
serta orangtua dan masyarakat di Australia pada umumnya lebih dicurahkan
terhadap penyelenggaraan pendidikan di tingkat satuan pendidikan, tidak hanya
di tingkal district (kabupaten) atau pun negara bagian. Hal ini disebabkan oleh
beberapa latar belakang penyebab. Pertama, keterlibatan dan peran serta
orangtua dan masyarakat di tingkat sekolah dirasakan secara langsung dalam
pemberian perhatian, bimbingan, dan pengawasan kepada putra dan putri mereka.
Kedua, pemerintah negara bagian dan federal memang telah memberikan dukungan
yang besar terhadap pendidikan, baik dari komitmen maupun pembiayaannya,
sehingga peran orangtua dan masyarakat tidak terlalu diperlukan dalam konteks
pembiayaan pendidikan. Hal ini terlihat dari uang sekolah yang relatif rendah
yang dibebankan kepada orangtua siswa. Itulah sebabnya maka apa yang dikenal
dengan Dewan Pendidikan di Indonesia, di tingkat district maupun negara bagian
di Ausralia dipandang kurang diperlukan. Oleh karena itu, pemerintah Australia,
baik di tingkat district maupun negara bagian, lebih menangani sekolah-sekolah negeri
(government school), meski di Australia terdapat tiga macam sekolah Australia,
yakni (1) governement school atau sekolah negeri, (2) sekolah swasta, Katolik
dan Kristen, dan (3) sekolah indepen. Dengan demikian, Department of Education
and Training di Australia memiliki tugas dan fungsi secara lebih khusus, yakni
memberikan penanganan terhadap sekolah pemerintah. Sementara itu,
sekolah-sekolah swasta dan independen diberikan sepenuhnya kepada lembaga atau
badan swasta atau keagamaan untuk mengurusnya dengan tetap memiliki kewajiban
untuk mengikuti sistem pendidikan nasional (termasuk kurikulum negara bagian
yang berlaku) yang dikeluarkan oleh pemerintah (dalam hal ini Curriculum
Council). Peran serta orangtua dan masyarakat dalam bidang pendidikan di Auatralia
difoukuskan pada tingkat satuan pendidikan, baik pada tingkat district
(kabupaten/kota) ataupun state (negara bagian).
b. Struktur Organisasi
Dewan Komite
|
School Council
|
Indonesia
|
Australia
|
(1) perwakilan orangtua siswa/wali peserta didik,
(2) tokoh masyarakat,
(3) anggota masyarakat yang memiliki perhatian terhadap pendidikan,
(4) pejabat pemerintah setepat,
(5) dunia usaha dan dunia industri,
(6) pakar pendidikan,
(7) organisasi profesi tenaga kependidikan,
(8) perwakilah siswa,
(9) perwakilan forum alumni siswa
|
1)
Ketua
2)
beberapa anggota yang merepresentasikan
elemen-elemen masyarakat,
a.
orangtua siswa,
b.
organisasi kemasyarakatan,
c.
dunia usaha dan industri,
d.
staf sekolah.
|
c. Peran dan Fungsi
Ketua
School council dengan kepala sekolah berperan membuat laporan pertanggung
jawaban mengenai penyelenggaraan sekolah baik intra maupun esktrakurikuler dan
berusah meningkatkan mutu pendidikan dengan meluncerkan berbagai program
pembelajaran.
Disebutkan bahwa “The
School Council discussed a number of issues, including the need for security
fences, parent ethos statement, school charges, children’s personal items and
the school’s curriculum priorities 2004″ atau “Dewan Pendidikan telah
mendiskusikan sejumlah isu, termasuk kebutuhan akan pagas keamaan, ‘pernyataan
sikap tentang etos orangtua siswa’, uang sekolah, berbagai persoalan personal
tentang anak-anak, dan prioritas kurikulum untuk tahun 2004″. Peran dan fungsi
Dewan Sekolah tidak banya berkutat dalam masalah keuangan tetapi juga penentuan
bahan ajar dalam kurikulum yang harus diprioritaskan pada tahun ke depan. Orangtua
siswa harus memiliki kepedulian tentang kurikulum sekolah dan mata pelajaran apa yang harus dipelajari para
siswa, dengan strategi dan metode apa yang paling tepat, dan mata pelajaran itu
diajarkan oleh guru yang bagaimana.
Dikaitkan dengan empat
peran Komite Sekolah di Indonesia, yakni (1) sebagai badan pertimbangan
(advisory agency), (2) sebagai badan pendudukng (supporting agency), (3)
sebagai badan pengontrol (controlling agency), dan (4) sebagai badan mediator
antara sekolah dan masyarakat. Tampat jelas dalam pelaksanaan peran dan fungsi
Dewan Sekolah di Australia lebih
memfokuskan pada pelaksanaan peran sebagai badan pemberi pertimbangan dan
pendukung. Hal ini terbukti mengingat kegiatan diskusi banyak dilakukan oleh
Dewan Sekolah.. “The Council is a very
cohesive group who have an important role in ensuring the quality of the
education at the School” atau “Dewan ini adalah satu kelompok yang sangat
kohesif yang memiliki satu peran yang penting dalam menjamin kualitas
pendidikan di sekolah”.
Wajib Belajar
Pemerintah Australia menyatakan
bahwa “pendidikan adalah wajib untuk semua siswa di Australia berdasarkan School Education Act 1999″ (di
Indonesia dikenal dengan UU Nomor 20 Tahun 2003). Semua anak mulai dari usia 6
sampai 15 tahun harus masuk sekolah yang sesuai. Sejak tahun 2003 usia wajib
belajar akan dinaikkan ke usia 6 tahun 6 bulan. Minimal usia dapat keluar dari
sekolah akan tetap pada usia 15 tahun sampai tahun 2012 yang akan dinaikkan
menjadi 15 tahun 6 bulan. Dengan kata lain, usia wajib belajar di Indonesia
tidak jauh berbeda dengan di Australia, yakni yang dikenal dengan wajib belajar
sembilan tahun, yakni kewajiban belajar untuk sekolah dasar dan sekolah
menengah pertama, mulai dari umur 7 tahun sampai dengan 15 tahun.
Sistem Penjenjangan Yang Dikembangkan
Sistem pendidikan diaustralia menempati tahapan antara
lain:
1.
Pendidikan pra-sekolah
2.
Jenjang pendidikan menengah
3.
Jenjang pendidikan tinggi
Australia adalah pulau terbesar dan benua terkecil di
dunia, yang terletak di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik Selatan.
Australia terdiri dari 6 (enam) negara bagian (New South Wales,
Queensland, Tasmania, Australia Selatan, Australia Barat dan Victoria)
dan 2 (dua) wilayah daratan(Northern Territory dan Australian Capital
Territory). Sistem pendidikan di Australia diatur oleh masing-masing negara
bagian dan wilayah daratan. Secara umum, jenjang pendidikan formal di Australia
terdiri atas 3 (tiga) tahapan pendidkan, yaitu pendidikan dasar, pendidikan
Menengah dan pendidikan tinggi.
Menurut Undang Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas disebutkan dalam
Pasal 1 Ayat 8 bahwa jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang
ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan
dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan. Dilihat dari jenjang pendidikan
formal, Indonesia mempunyai 3 (tiga) tahapan pendidikan yang sama seperti
Australia, yaitu pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.
Baik di Indonesia ataupun di Australia pendidikan
dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah.
Perbedaan jenjang pendidikan dasar di Indonesia dan Australia terletak pada
lama pendidikannya. Pendidikan dasar di Indonesia selama 9 (sembilan) tahun,
yaitu Sekolah Dasar (SD)
selama
6 (enam) tahun dan Sekolam Menengah Pertama (SMP) selama 3 (tiga) tahun.
Sedangkan di Australia lama pendidikan dasar adalah 6 (enam) atau
7
(tujuh) tahun setingkat SD (lama pendidikan SD tergantung otoritas
masing-masing daerah).
Pendidikan menengah di Indonesia dan Australia
merupakan lanjutan dari pendidikan dasar. Di Indonesia pendidikan menengah
selama 3 (tiga) tahun dan di Australia pendidikan menengah selama 5 (lima) atau
(enam) tergantung dari otorita dari masing-masing negara bagian dan wilayah
daratan.
Tahapan terakhir dari jenjang pendidikan di Indonesia
dan Australia adalah pendidikan tinggi, yang merupakan jenjang pendidikan
setelah pendidikan menengah. Pendidikan tinggi di Indonesia dan Australia
mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magíster, spesialis dan doctor
yang diselengarakan oleh perguruan tinggi.
Berdasarkan mengenai jenjang pendidikan formal
di negara Australia dan Indonesia, maka timbul suatu permasalahan: adakah
perbedaan jenjang pendidikan formal di Australia dan Indonesia, ditinjau dari
lama dan jalur pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi ?
Oleh karena itu, makalah ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan jenjang
pendidikan formal di Australia dan Indonesia, ditinjau dari lama dan jalur
pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.
B. Jenjang Pendidikan Formal
Seperti yang telah dijelaskan, bahwa jenjang
pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat
perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang
dikembangkan. Dalam hal ini, hanya akan dibicarakan mengenai jenjang pendidikan
formal yang ada di negara Australia dan Indonesia.
Pada bagian ini akan dijelaskan jenjang pendidikan
formal secara umum di negara Australia dan Indonesia.
1. Jenjang Pendidikan Formal di Australia
Rentang persekolahan (spend of schooling) di
berbagai negara bagian dan wilayah terdapat persamaan dan sekaligus perbedaan,
baik dari segi penamaan maupun penjejangannya. Rentang persekolahan di
Australia yakni mulai dari Taman Kanak-kanak (Kindergarten) sampai
ke tahun ke-12 (pendidikan menengah), dilanjutkan ke pendidikan tinggi.
Nama-nama jenjang persekolahan di Australia adalah Taman Kanak-kanak (Kindergarten) atau
Prasekolah, Sekolah Dasar (Primary School), dan Sekolah Menengah (Junior
Secondary School dan Senior High School).
Pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah terdapat
perbedaan lama pendidikan dari masing-masing negara bagian dan wilayah daratan,
ada yang pendidikan dasarnya 6 (enam) tahun dan pendidikan menengah juga 6
(enam) tahun, serta ada yang pendidikan dasarnya 7 (tujuh) tahun dan pendidikan
menengahnya 5 (lima) tahun. Ini dikarenakan berdasarkan Konstitusi Australia,
pendidikan adalah tanggung jawab negara bagian. Pada setiap negara bagian,
seorang Menteri Pendidikan dengan sebuah departemen pendidikan melaksanakan
pendidikan dasar dan menengah, dan adakalanya juga pendidikan prasekolah pada
daerah itu. Sehingga masing-masing negara bagian dan wilayah daratan mempunyai
otoritas sendiri-sendir dalam pelaksanaan pendidikannya.
Gambar Jenjang pendidikan
Jenjang
pendidikan
|
Lama
Pendidikan
|
Pendidikan
dasar
Primary School
|
6 (enam )
tahun
|
Pendidikan
Menengah
Jnior
Secondary school
Senor High
School
|
4 (empat)
tahun
2 (dua ) tahun
|
Untuk negara bagian dan wilayah daratan New
South Wales, Victoria, Tasmania dan Australian Capital
Territory, jenjang pendidikan dasar 6 (enam) tahun dan dan pendidikan
menengah 6 (enam) tahun, terdiri dari:
Jenjang
pendidikan
|
Lama
Pendidikan
|
Pendidikan
dasar
Primary School
|
7 (tujuh )
tahun
|
Pendidikan
Menengah
Jnior
Secondary school
Senor High
School
|
3 (tiga) tahun
2 (dua ) tahun
|
Jenjang pada
pendidikan tinggi (perguruan tinggi), alam pendidikan untuk memperoleh gelas
sarjana masing-masing perguruan tinggi atau universitas meungkin sedikit
berbeda. Berikut adalah lama pendidikan tinggi secara umumdi Australia, adalah
sebagai berikut :
Tingkat
Kualifikasi
|
Lama Pendidian
|
Sertifikat
Diploma
Bachelors degree
Garduate
Certificate
Garduate
Diploma
Master Degree
|
6 – 24 bulan
1,5 – 3 tahun
3-5 tahun
6 bulan
1 tahun
1-2 tahun
4-5 tahun
|
2. Jenjang Pendidikan Formal di Indonesia
Rentang persekolahan di Indonesia pada setiap daerah
relatif sama, yakni mulai dari Taman Kanak-kanak (Pendidikan Anak Usia Dini),
dilanjutkan dengan pendidikan dasar (Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah
Pertama), pendidikan menengah (Sekolah Menengah Atas/Sekolah Menengah
Kejuruan), dan pendidikan tinggi (Perguruan Tinggi). Nama-nama jenjang
persekolahan di Indonesia adalah Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD) /
Madrasah Ibtidaiyah (MI), Sekolah Menengah Pertama (SMP) / Madrasah Tsanawiyah
(MTs), Sekolah Menengah Atas (SMA) / Madrasah Aliyah (MA) / Sekolah Menengah Kejuruan
(SMK) / Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), dan Perguruan Tinggi (Universitas,
Sekolah Tinggi, Institut, Politeknik, atau Akademik).
Di Indonesia lama pendidikan dasar dan menengah adalah
12 tahun, terdiri atas pendidikan dasar selama 9 (sembilan) tahun dan
pendidikan menengah selama 3 (tiga) tahun, terdiri dari:
Jenjang
Pendidikan
|
Lama
pendidikan
|
Pendidikan
Dasar
SD MI
SMP / MTs
|
6 tahun
3 tahun
|
Pendidikan
Menengah
SMA/SMK/MA/MAk
|
3 tahun
|
Jenjang pada
pendidikan tinggi (perguruan tinggi) di Indonesia, lama pendidikan untuk
memperolah gelar sarjana masing-masing perguruan tinggi atau universitas
cenderung sama. Berikut adalah lama pendidikan tinggi secara umum di Indonesia,
adalah sebagai berikut :
Tingkat
Kualifikasi
|
Rata-rata
waktu
|
Diploma I
Diploma II
Diplma III
Diploma IV
Magister
Doktor
|
1 tahun
2 tahun
3 tahun
4 tahun
4 – 5 tahun
2 tahun
3 tahun
|
C. Jenjang
Pendidikan Dasar
Pada bagian ini akan diuraikan secara rinci mengenai
jenjang pendidikan dasar di Australia dan Indonesia serta perbedaan jenjang
pendidikan dasar di Australia dan Indonesia.
1. Jenjang Pendidikan Dasar di Australia
Australia terdiri dari 6 (enam) negara bagian (New
South Wales, Queensland, Tasmania, Australia Selatan, Australia Barat dan
Victoria) dan 2 (dua) wilayah daratan (Northern Territory dan
Australian Capital Territory). Pada masing-masing negara bagian dan wilayah
daratan terdapat perbedaan lamanya pendidikan dasar (Primary School),
yaitu ada yang 6 (enam) tahun dan ada yang 7 (tujuh) tahuan.
Untuk negara bagian dan wilayah daratan New
South Wales, Victoria, Tasmania dan Australian Capital
Territory, Sekolah Dasar (Primary School) selama
6 (enam) tahun dan untuk negara bagian dan wilayah daratan Queensland,
Australia Selatan, Australia Barat dan Northern Territory, Sekolah
Dasar(Primary School) selama 7 (tujuh) tahun.
Pendidikan dasar atau Primary School adalah
wajib bagi anak yang berusia
6 (enam) tahun sampai
usia 12 atau 13 tahun tergantung dari lamanya pendidikan dasar di daerah
tersebut. Untuk kurikulum pada masing-masing negara bagian dan wilayah daratan
ada yang sama ada juga yang berbeda, tergantung dari otorita daerah
masing-masing. Untuk semua negara bagian dan wilayah daratan Sekolah
Dasar (Primary School) yang bersifat keagamaan
merupakan milik swasta (tidak ada satupun sekolah dasar yang bersifat keagamaan
merupakan sekolah dasar negeri).
2. Jenjang Pendidikan Dasar di Indonesia
Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri atas
33 propinsi. Lama pendidikan dasar di Indonesia adalah 9 (tahun) tahun, yaitu
Sekolah Dasar (SD/MI) selama 6 (enam) tahun dan Sekolah Menengah Pertama
(SMP/MTs) selama 3 (tiga) tahun. Pendidikan dasar adalah wajib bagi anak
berusia 6 (enam) tahun sampai usia 15 tahun. Di Indonesia, ada 2 (dua) jalur
pendidikan dasar yang setaraf dengan SD dan SMP, yaitu MI dan MTS. MI dan MTs
merupakan pendidikan dasar yang menitikberatkan dalam bidang keagamaan,
khususnya agama Islam, tetapi untuk lama pendidikannya sama seperti SD dan SMP.
Jenjang pendidikan dasar dimulai pada kelas 1 (satu) sampai kelas 6 (enam)
untuk SD/MI dan kelas 7 (tujuh) sampai 9 (sembilan) untuk SMP/MTs.
3. Perbedaan Jenjang Pendidikan Dasar di
Australia dan Indonesia
Berdasarkan penjelasan mengenai jenjang pendidikan
dasar di Australia dan Indonesia terdapat beberapa pebedaan, yaitu :
|
Australia
|
Indonesia
|
Lama
pendidikan
|
6 tahun / 7
tahun
|
9 tahun
|
Jalur
pendidikan
|
SD (Primary
School)
|
SD/MI ; 6 tahun
SMP/MTs : 3
tahun
|
Jalur
Pendidikan bersifat keagamaan
|
Milik Swasta
|
Milik Pemerintah
/ Swasta
|
D. Jenjang Pendidikan Menengah
Pada bagian ini akan diuraikan secara rinci mengenai
jenjang pendidikan menengah di Australia dan Indonesia serta perbedaan jenjang
pendidikan menengah di Australia dan Indonesia.
1. Jenjang Pendidikan Menengah di Australia
Untuk negara bagian dan wilayah daratan New
South Wales, Victoria, Tasmania dan Australian Capital
Territory, pendidikan menengah (Junior Secondary School dan Senior
High School) selama 6 (enam) tahun dan untuk negara bagian dan wilayah
daratan Queensland, Australia Selatan, Australia Baratdan Northern
Territory, , pendidikan menengah (Junior Secondary
School dan c selama 5 (lima) tahun.
Pendidikan menengah Junior Secondary
School adalah wajib bagi anak yang berusia usia 12 atau 13 tahun
sampai 16 tahun tergantung dari lamanya pendidikan menengah di daerah tersebut.
Untuk negara bagian dan wilayah daratan New South Wales, Victoria,
Tasmania dan Australian Capital Territory, lama
pendidikan Junior Secondary School selama 4 (empat) tahun dan
untuk negara bagian dan wilayah daratan Queensland, Australia Selatan,
Australia Barat dan Northern Territory, , lama
pendidika Junior Secondary School selama 3 (tiga) tahun.
Sedangkan lama pendidikan untuk Senior High School sama
disetiap negara bagian dan wilayah daratan, yaitu selama 2 (dua) tahun.
Pada jenjang pendidikan Senior High School,
setiap siswa berkewajiban memilih program pendidikan kejuruan atau pendidikan
umum. Di Australia pendidikan kejuruan diarahkan untuk pasar kerja. Dimana
setiap negara memiliki kejuruan Pendidikan dan Pelatihan (Vocational
Education and Training / VET). VET mempersiapkan siswa untuk bekerja
yang tidak perlu gelar sarjana. Biasanya, VET memakan waktu 2 (dua) tahun
setelah pendidikan Senior High School atau 4 (empat) tahun
setelahJunior Secondary School. VET merupakan pendidikan berupa
kursus keterampilan dan mendapat sertifikat.
2. Jenjang Pendidikan Menengah di Indonesia
Jenjang pendidikan menengah di Indonesia berlangsung
selama 3 (tiga) tahun. Jalur pendidikan menengah di Indonesia terbagi atas dua
jenis pendidikan, yaitu pendidikan umum dan pendidikan kejuruan.
Pendidikan umum adalah pendidikan yang mengutamakan
perluasan pengetahuan yang diperlukan oleh peserta didik untuk melanjutkan
pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi (perguuan tinggi). Sekolah Menengah
Atas (SMA)
dan
Madrasah Aliyah (MA) merupakan jenis pendidikan umum pada jenjang pendidikan
menengah. SMA merupakan kelanjutan dari SMP dan MA merupakan kelanjutan dari
MTs. Pada pendidikan umum setaraf SMA dan MA, pembagian penjuruan dilakukan
pada tahun kedua, yaitu pada kenaikan kelas 11.
Pendidikan kejuruan adalah pendidikan menengah yang
mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu.
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) merupakan
jenis pendidikan kejuruan pada jenjang pendidikan menengah. SMA merupakan
kelanjutan dari SMP dan MA merupakan kelanjutan dari MTs.
3. Perbandingan Jenjang Pendidikan Menengah di
Australia dan Indonesia
Berdasarkan penjelasan mengenai jenjang pendidikan
menengah di Australia dan Indonesia terdapat beberapa pebedaan, yaitu :
Bidang
|
Australia
|
Indonesia
|
Lama
Pendidikan
|
6 tahun / 5
tahun
|
3 tahun
|
Jalur
Pendidikan
|
Junior
Secondary school : 4 tahun / 3 tahun
Senior High
School : 2 tahun
|
SMA/SMK/MA/MAK
: 3 tahun
|
Jalur
pendidikan yang bersifat keagamaan
|
Milik Swasta
|
Milik
Pemerintah / swasta
|
Penjurusan
untuk endidikan umum
|
Tidak ada
|
Ada tahun
kedua
|
Jenis
Pendidikan yang bersifat kejuruan
|
2 tahun + pendidikan
2 tahun
|
3 tahun
|
Wajib belajar
|
Pendidikan
dasar + Junior Secondary School
|
Pendidikan
dasar
|
Jumlah Siswa dalam Satu
Kelas dan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)
Yang amat berbeda dengan
sekolah di Indonesia adalah masalah jumlah siswa dalam satu kelas. Jumlah siswa
dalam satu kelas di Australia tidak lebih dari 20 orang siswa. Jumlah siswa di
kelas yang dikunjungi rombongan studi banding ternyata hanya 18 orang siswa.
Jumlah siswa dalam satu kelas memiliki implikasi yang sangat besar terhadap
efektivitas proses belajar mengajar.
Terkait dengan pelaksanaan
Kurikulum 2013 yang sebentar lagi akan
dilaksanakan, maka jumlah siswa yang besar di Indonesia akan menjadi kendala
yang amat berat yang harus dihadapi oleh para guru. Hal ini harus diantisipasi
sejak awal oleh para pengambil kebijakan dalam hal pelaksanaan kurikulum 2013
Sistem guru mengajar di Australia mengunakan e5 intruksional model yaitu
terlibat , mengeksplorasi, menjelaskan, menguraikan, mengevaluasi untuk siswa
belajar. Suasana yang amat kondusif untuk belajar, karena semua media dan alat
peraga telah dipajang semua di kelas itu, temasuk beberapa PC, dan tidak lupa
kumpulan portofolio. Dinding kelas di Australia memang dirancang dengan bahan
berupa ‘soft board’ atau papan lunak yang digunakan untuk memajang atau
menempel berbagai media dan alat peraga buatan guru. Tidak ada dinding kelas
yang kosong tanpa gambar, media, dan alat peraga. Ruang kelas di Australia
benar-benar sebagai tempat yang menyenangkan bagi anak-anak untuk dapat belajar
dengan tekun, (www. Australian education) . yang di Indonesia hanya sekolah
tertentu saja terutama sekolah yang sudah maju sistem pembelajaran , tetapi
kalau sekolah milik pemerintah belum
banyak dilakukan.
Kebijakan Strategis Negara Dibidang Pendidikan
Pendanaan pendidikan merupakan
tanggungjawab yang bersifat amalgam yaitu gabungan dari berbagai sumber dana.
Negara punya tanggungjawab utama membiayai pendidikan prasekolah, sekolah dasar
dan mengah negeri serta menyediakan bantuanbagi sekolah-sekolah swasta termasuk
prasekolah swasta (TK). Pemerintah commonwealt mempunyai tanggungjawab
penuh atas pembiayaan universitas dan institut Cae, dan memberikan dana-dana
tambahan bagi pendidikan prasekolah, sekolah negeri dan swastta serta TAFE.
Kebijakan Negara Terhadap Pendidikan
Agama Islam
Sekolah islam bukanlah sesuatu yang
baru dalam sejarah islam di australia. Bersamaan dengan pertumbuhan islam dan
masyarakat muslim di benua Kanguru, lembaga pendidikan islam, sejak dari
nonformal seperti ”Saturday of sunday school”. Pengajian anak-anak pada sabtu
dan minggu sampai sekolah islam terus berkembang. Istilah ‘madrasah’ tidak
populer dan hampir tidak digunakan sebagai salah satu bentuk lembaga pendidikan
islam.
Sudah menjadi komitmen
universitas-universitas di seluruh australia yang selalu berusaha memastikan
bahwa mahasiswa-mahasiswa mereka yang beragama islam sebagaimana dengan
mahasiswa latar belakang budaya lain untuk memperoleh kebebasan dalam
menjalankan agama mereka masing-masing dalam area kampus. Umumnya di setiap
universitas di bentuk wadah pendukung dan sosial yang khusus di tunjukkan untuk
membantu mahasiswa muslim di Australia, selain itu juga hadirnya
perkumpulan-perkumpulan mahasiswa internasional yang umum. Orang Australia
bangga akan percampuran multi budaya di kota-kota mereka
Sekolah Islam terebut pada dasarnya
sudah menerapkan kurikulum negara bagian, sesuai dengan standar nasional mata
pelajaran-mata pelajaran umum. Dengan demikian mereka mendapat akreditasi dari
badan akreditas, selanjutnya berhak menerima subsidi dari pemerintah. Akan tetapi,
seperti diungkapkan profesor Saeed, bahwa berbagai mata pelajaran agama (islam)
tidak memiliki kurikulum atau standar baku. Tidak ada otoritas dikalangan
muslim australia yang merumuskan sendiri kurikulum berbagai mata pelajaran
agama.
Pengembangan kurikulum
dan pengembangan tenaga kependidikan
Suatu kecenderungan pada semua
sistem sekolah negeri diaustralia sejak awal 1970an adalah pendelegasian
tanggung jawab kurikulum kepada sekolah-sekolah, pada beberapa negara bagian,
pedoman kurikulum dibuat terpusat tetapi sekolah-sekolah dapat
mengadaptasikannya untuk memenuhi tuntunan dan kebutuhan lokal.
Dalam hal kurikulum disusun
berdasarkan pedoman dan materi pelajaran dari pejabat-pejabat senior dari pusat
secara teratur mengunjungi sekolah-sekolah antara lain untuk memonitor
pelaksanaan kurikulum.
Hampir semua
guru pra-sekolah dan pendidikan dasar seperti kebanyakan guru-guru sekolah
menengah dididik pada CAE (calleges of advanced education). Seumlah guru-guru
sekolah menengah dan beberapa guru pendidikan dasar mendapat pendidikan di
universitas. Sebagian guru-guru swasta mendapatkan pendidikan pada
sekolah-sekolah pendidikan guru yang dikelola oleh badan-badan keagamaan.
Lamanya guru-guru pra-sekolah dan pendidikan dasar biasanya 4 tahun, semua sistem
sekolah memberikan kesempatan kepada guru-guru untuk mendapatkan pendidikan
dalam jabatan (inservice education) termasuk peningkatan kualifikasi atau
ijasah dengan menyelesaikan kuliah-kuliah yang disetujui terlebih dahulu.
Kurikulum
Kurikulum merupakan
salah satu dari tiga komponen pendidikan yang paling esensial dalam pendidikan,
selain komponen siswa dan guru. Kurikulum merupakan dokumen yang berisi bahan
ajar yang harus disampaikan oleh guru kepada para siswanya dalam proses
interaksi edukatif. Kurikulum merupakan perangkat substansial yang menjadi
pegangan guru untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. (Nur Agustia Syah, 2001)
Curriculum Framework
Kurikulum pendidikan
dasar dan menengah di negara bagian Australia disebut sebagai Curriculum Framework for
Kindergarten to Year 12 Education in Western Australia. Dokumen kurikulum tersebut menjelaskan tentang
garis-garis besar kompetensi siswa yang dituntut untuk semua mata pelajaran.
Mata pelajaran
|
Keterangan
|
Indonesia
|
Australia
|
1.
Pend. Agama
2.
Pkn
3.
Bahasa
4.
Matematika
5.
IPA
6.
IPS
7.
Kesenian
8.
Penjasorkes
9.
Keterampilan
10.
TIK
|
2.
The Art
3.
English
4.
Health and Physical Education
5.
Languages Other Than English (LOTE)
6.
Mathematics,
7.
Science,
8.
Society and Environment,
9.
Technology and Enterprise.
|
|
Jika dibandingkan dengan kurikulum di
Indonesia, maka perbedaannya ada pada mata pelajaran Pendidikan Agama dan
Pendidikan Kewarganegaraan, yang di kurikulum Australia Barat tidak ada. Sedang
mata pelajaran Technology and Enterprise yang terdapat di kurikulum Australia
Barat , dalam kurikulum di Indonesia
berupa Tekologi informasi dan komunikasi Kurikulum di Australia Barat disusun
oleh Curriculum Council, Departemen Pendidikan dan Pelatihan, sedang di
Indonesia disusun oleh Pusat Kurikulum dengan bekerja sama dengan Direktorat
Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. Curriculum Framework di Australia Barat
diluncurkan pada tanggal 23 Juli 1998, dan secara penuh telah digunakan di
seluruh Australia Barat pada tahun 2004. Sebagaimana kita ketahui, Kurikulum
Berbasis Kompetensi di Indonesia baru akan diluncurkan pada tahun ajaran baru
2004/2005 dan akan dilaksanakan secara bertahap. Curriculum Framework di
Australia Barat disusun dalam rangka menyongsong datangnya Abad XXI, dengan
semboyan “Educating our Children to succeed in the 21th Century”. Prof. Lesley
Parker, Chair of the Curriculum Council, menyatakan rasa bangganya, karena “The
Curriculum Framework was developed through a unique cosultative process that
involved almost 10.000 teachers, parents, academics, curriculum officers,
students and other members of the community”. Dengan kata lain, pengembangan
kurikulum di Australia Barat telah melibatkan semua stakeholder pendidikan.
Ada beberapa hal yang menarik dalam
Curriculum Framework.
Pertama, ada 8 kondisi yang melatarbelakangi pengembangan kurikulum di
Australia , yaitu (1) keragaman budaya, (2) perubahan dalam struktur keluarga, (3) laju
perubahan technologival, (4) masalah lingkungan global, (5) perubahan sifat
kondisi sosial, (6) perubahan di tempat kerja, (7) saling ketergantungan dalam
ekonomi global, (8) standar pasti hidup.
Kedua, ada lima karakteristik nilai (values) yang akan dibangun melalui
kurikulum tersebut, yaitu: (1) mengejar pengetahuan dan komitmen untuk pencapaian
potensial, (2) penerimaan diri dan menghormati diri sendiri, (3) menghormati
dan peduli terhadap orang lain dan hak-hak mereka, (4) tanggung jawab sosial
dan kemasyarakatan, dan (5) tanggung jawab lingkungan.
Apakah kurikulum di
Australia Barat telah menganut konsep kurikulum yang berbasis kompetensi?
Curriculum Framework tidak mengggunakan istilah “berbasis kompetensi” atau
“competency-based”, namun menggunakan istilah “student outcomes statement” atau
dikenal dengan “overarching statement learning outcomes”, yang rumusannya pada
hakikatnya sama dengan rumusan kompetensi. Ada 13 (tiga belas) student outcomes
statement yang akan dicapai melalui delapan mata pelajaran secara sinergis
dengan menggunakan konsep “links across the curriculum”, yaitu:
1.
Siswa
menggunakan bahasa untuk memahami,
mengembangkan dan mengkomunikasikan
gagasan dan informasi dan berinteraksi dengan orang lain
2.
Siswa memilih,
mengintegrasikan dan menerapkan konsep
dan teknik numerik dan spasial
3.
Siswa
mengenali kapan dan apa informasi yang dibutuhkan, mencari dan mendapatkan itu membentuk berbagai sumber dan mengevaluasi, menggunakan dan berbagi dengan orang lain.
4.
Siswa memilih,
menggunakan dan mengadaptasi teknologi
5.
Siswa
menjelaskan dan alasan tentang pola, struktur dan hubungan
dalam rangka untuk memahami, menafsirkan,
membenarkan dan membuat pola
6.
Konsekuensi
memvisualisasikan Mahasiswa, berpikir lateral, mengenali peluang dan potensi dan siap untuk menguji opsi
7.
Mahasiswa
memahami dan menghargai, dunia biologi dan teknologi fisik
dan memiliki pengetahuan dan keterampilan
dan nilai-nilai untuk membuat keputusan
dalam kaitannya dengan itu
8.
Mahasiswa memahami
konteks budaya, geografis dan historis mereka dan memiliki pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai
yang diperlukan untuk partisipasi aktif dalam
kehidupan di Australia
9.
Siswa
berinteraksi dengan orang dan budaya
selain mereka sendiri lain dan dilengkapi untuk berkontribusi pada komunitas global\
10.
Siswa
berpartisipasi dalam kegiatan kreatif
mereka sendiri dan memahami dan terlibat
dengan seni, budaya
dan intelektual pekerjaan orang
lain
11.
Nilai
siswa dan praktek alat yang mempromosikan pertumbuhan pribadi dan kesejahteraan
12.
Siswa
memiliki motivasi diri dan percaya diri
dalam pendekatan mereka untuk belajar
dan mampu bekerja secara
individual dan bersama-sama
13.
Siswa
mengakui bahwa setiap orang memiliki hak
untuk merasa dihargai dan aman, dan, dalam hal
ini, memahami hak dan kewajiban
mereka dan berperilaku bertanggung
jawab.
Catatan:
Untuk students 1 – 11 dicapai melalui kolaborasi dari 8 mata pelajaran. Sedang
untuk outcomes 12 dan 13 dicapai melalui pemberian kebijakan dan usaha sekolah
(policies and initiatives at the school) yang kondusif.
Indonesia
|
Australia
|
|
Kurikulum di Indonesia Sejak 2006 kurikulum Indonesia disebut
KTSP KTSP disusun berdasar SK dan KD dari BSNP Terdapat tiga tingkat
pendidikan yang ada di Indonesia: dasar,menengah,tinggi. Mapel pada tingkatan
pendidikan tersebut terangkum dalam KTSP, salah satunya Kimia.
|
Pelaksanaan Kurikulum Kurikulum Australia menerapkan kurikulum
sambung jaringan atau on-line , yang memberikan fleksibilitas yang sangat
besar. Kurikulum tersebut dapat diakses oleh semua orang. Para siswa dapat
mengunduh serta mencetak kurikulum di dalam tiap bidang pembelajaran atau
mata pembelajaran dalam satu tingkat pendidikan.
Sistem Ujian Australia Ujian di Australia bukan sebagai penentu
kenaikan kelas siswa (Automatic Year) Terdapat ujian akhir yang disebut State
Examination atau ujian per negara bagian. State Examination tidak menetukan
kelulusan tetapi menentukan pedoman siswa melanjutkan pendidikannya.
|
|
Kurikulum Kimia di Indonesia Kimia sebagai bagian dari IPA sudah
diajarkan sejak sekolah dasar. Kimia sebagai mapel tunggal diajarkan pada
kelas VII SMP sampai XII SMA. Pada sekolah kejuruan mapel kimia hanya
diberikan pada siswa yg jurusannya berkaitan dengan kimia.
|
Kurikulum Kimia Australia Materi kimia dikembangkan dan
dievaluasi oleh lembaga ACARA (Australian Curriculum, Assesment, and
Reporting Authority). ACARA mengembangkan materi kimia sejak foundation year
hingga year 10 sedangkan year 11 hingga year 12 dikembangkan oleh WACE
(Western Australia Certificate of Education).
Materi kimia di Australia pada foundation year-year 10 diberikan
dalam tema besar yg tidak dibagi menjadi sub tema. Materi kimia pada
year11-12 mulai diberikan dalam sub tema sbg persiapan masuk ke universitas
atau sekolah vokasi. ( http://www.australiancuricculum.edu.au / )
Materi Kimia di Australia Tingkatan Materi Foundation year Benda
terbuat dari material-material yang sifatnya dapat dilihat Year 1 Benda
sehari-hari dapat diubah secara fisika dengan berbagai cara Year 2 Benda yang
berbeda dapat dikombinasikan, meliputi pencampuran untuk tujuan tertentu Year
3 Perubahan kondisi antara padat dan cair dapat disebabkan oleh penambahan
atau pelepasan kalor Year 4 Alam dan material terproses memiliki sifat fisik.
Sifat-sifat tersebut dapat mempengaruhi kegunaanya Year 5 Padat, cair, dan
gas memiliki komponen sifat yang berbeda
Tingkatan Materi Year 6 Perubahan material dapat balik, seperti
pencairan, pembekuan, penguapan: atau tidak dapat balik seperti pembakaran
atau berkarat
|
|
Materi Kimia SMP Materi kimia yang diajarkan di tingkat SMP kelas
VII meliputi: Asam basa, garam,dan sifatnya Unsur, senyawa, campuran Sifat
fisika dan kimia Perubahan fisika dan kimia Penyetaraan reaksi kimia (Budi
Suryatin,2008 (a): iv)
Kelas VIII: Partikel materi dan molekul dlm kehidupan
sehari-hari. Bahan kimia dlm kehidupan rumah tangga. Bahan kimia makanan. Zat
aditif dan psikotropika. (Budi Suryatin, 2008 (b): iv)
|
Tingkatan Year 7 Campuran, meliputi larutan, mengandung
kombinasi senyawa murni yang dapat dipisah menggunakan beberapa teknik Year 8
Perbedaan sifat suatu benda dapat dijelaskan oleh susunan partikel Perbedaan
antara unsur, senyawa, dan campuran Perubahan kimia meliputi reaksi senyawa
untuk membentuk senyawa baru Year 9 Semua benda terbuat dari atom yang
terdiri dari proton, neutron, dan elektron
|
|
Materi Kimia SMA : Kelas Materi X Struktur atom, sifat-sifat
periodik unsur, ikatan kimia Hukum-hukum dasar kimia dan stoikiometri Sifat
larutan elektrolit-non elektrolit, reaksi redoks,tata nama IUPAC Senyawa
hidrokarbon dan minyak bumi XI Sifat periodik unsur, struktur
molekul,sifat-sifat senyawa Termokimia Laju reaksi dan kesetimbangan reaksi
Kelas Materi Asam basa dan titrasi Koloid XII Sifat koligatif
larutan elektrolit-non elektrolit Sel elektrokimia Karakteristik unsur
Senyawa organik dan turunannya (Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat
Jenderal Manajemen Dasar dan Menengah, dan Direktorat Pembinaan SMA, 2006:
1-30)
|
Tingkatan Materi Reaksi kimia melibatkan penataan kembali atom
untuk membentuk zat baru; selama proses reaksi kimia massa tidak diciptakan
atau dimusnahkan Reaksi kimia meliputi pembakaran dan reaksi asam merupakan
hal penting untuk kedua sistem abiotik dan biotik dan melibatkan perpindahan
energi Year 10 Struktur atom dan sifat-sifat unsur digunakan untuk menyusun
tabel periodik Perbedaan reaksi kimia digunakan untuk memproduksi produk
tertentu dan dapat terjadi pada laju yang berbeda
Materi kimia pada year 11-12 dibagi menjadi tujuh tema,yaitu: 1.
Sifat makroskopik benda 2. Struktur atom dan ikatan kimia 3. Reaksi kimia 4.
Asam dan basa dalam larutan 5.Oksidasi dan reduksi 6. Kimia organik 7.
Aplikasi kimia
Ketujuh tema dibagi menjadi unit A dan B. Tiap unit memiliki
tiga tahap, yaitu: Tahap 1A yg disebut dgn Chemistry and Me , dan tahap 1B yg
disebut dgn Chemistry in My Community. Tahap 2A yg disebut dgn Chemistry in
and Around Me , dan tahap 2B yg disebut Chemistry and Environment . Tahap 3 A
yg disebut dgn Chemical Prosseses , dan tahap 3B yg disebut Chemistry and
Modern Lifestyle
|
|
Mata pelajaran sejak tingkat dasar hingga menengah sudah
ditentukan. Kenaikan Kelas ditentukan oleh standar kelulusan mata pelajaran.
Ujian Nasional sebagai penentu
kelulusan
|
Mata pelajaran Sejak tingkat
dasar hingga menengah siswa tdk bebas mengambil mapel yg disenangi. Siswa
diberikan mapel yg sudah disusun pada tingkat dasar. Pada tingkat menengah
siswa bebas memilih Kenaikan kelas Mengenal sistem tinggal kelas Otomatis
naik kelas Ujian nasional Ada dan sbg penentu kelulusan Tidak ada. Hanya ada
State Examination utk pedoman kelanjutan studi
|
|
Pendanaan dari pemerintah
|
Pendanaan dari pemerintah federal Inggris yang berwewenang .
Departemen pendidikan dan kebudayaan Austrlaian Curriculum,Assesment, and
Reporting Authority
|
|
Kegiatan pembelajaran menggunakan Instruksional model kooperatif
learning : ekplorasi, elaborasi dan konfirmasi
|
Instruksional model : terlibat, mengekploasi, menjelaskan,
menguraikan, mengevaluasi
|
|
|
Kelebihan : Pemberian materi disesuaikan dengan tahapan
pendidikan peserta didik. 2. Judul tema yg sederhana tetapi menarik. 3. Untuk
foundation year-year 10 materi sederhana dan aplikatif. 4. Materi persiapan
masuk perguruan tinggi tdk banyak tetapi dalam.
|
|
|
Kekurangan 1. Siswa diajarkan terlalu dini. 2. Siswa yg tidak
melanjutkan ke prodi kimia hanya mendapatkan materi yang sederhana.
|
|
Sumber Australian curriculum
Kurikulum dan pengujian
Badan
yang menangani pendidikan dasar dan menengah di Negara Bagian Victoria adalah
Victorian Curriculum and Assessment Authority yang lebih dikenal dengan
singkatannya VCAA. Badan itulah yang menetapkan garis-garis petunjuk mengenai
apa yang dipelajari anak didik dari TK sampai kelas 12 di sekolah-sekolah
Victoria. Pendidikan menengah terdiri dari dua bagian, yaitu junior secondary
dari kelas 7 sampai dengan 10 dan senior secondary, yaitu kelas 11 dan 12, yang
juga disebut kelas Victorian certificate of education atau VCE karena VCE
adalah satu-satunya ijazah nonkejuruan sekolah menengah di Victoria. Yang
mengeluarkan ijazah ini adalah VCAA. Wajib sekolah hanya sampai di kelas 10.
Meskipun kelas 11 (unit 1 dan 2) dan kelas 12 (unit 3 dan 4) adalah kelas VCE,
yang diuji dan dinilai untuk mendapatkan ijazah adalah mata pelajaran dari unit
3 dan 4. Siswa kelas 11 yang berminat dan dinilai siap oleh sekolah dan gurunya
diperbolehkan membuat satu atau dua mata pelajaran unit 3 dan 4 dan hasil
ujiannya akan ditabung dan dihitung gabung dengan mata pelajaran lain yang akan
dikerjakannya di kelas 12. VCAA menawarkan sekitar 140 mata pelajaran di kelas
VCE, tetapi dari sekian banyak pilihan, pelajar cukup mengerjakan empat mata
pelajaran saja yang akan diuji untuk mendapat ijazah. Satu-satunya mata
pelajaran wajib adalah bahasa Inggris. Insentif bagi pelajar yang mengerjakan
lebih dari empat mata pelajaran adalah hasil ujian mata pelajaran kelima dan
keenam dihitung 10% masing-masingnya untuk ditambahkan pada hasil akhir. Ada
dua jenis ujian unit 3 dan 4 VCE, yaitu ujian internal dan ujian eksternal,
masing-masing bernilai 50%. Ujian internal diberikan guru mata pelajaran
bersangkutan dan dinilai bersama dengan guru lain dari mata pelajaran yang
sama. Ujian eksternal diberikan dan dinilai VCAA lewat sebuah panel yang
terdiri dari para guru atau pengajar yang berpengalaman. Penulis ujian
eksternal tidak boleh mengajar kelas 12 dalam tahun bersangkutan dan para guru pemeriksa
ujian eksternal tidak boleh memeriksa pekerjaan pelajar mereka sendiri. Untuk
menjaga jangan sampai ada sekolah yang terlalu lunak atau sebaliknya, terlalu
keras dalam memberikan nilai ujian internal, nilai akhir pelajar dibakukan
berdasarkan hasil ujian eksternal. Artinya nilai semua peserta ujian menjalani
prosedur standar yang sama (standardised). Nilai akhir ujian VCE itu masih
harus dibuat peringkatnya, yang berkisar antara 0 dan 99,95, oleh suatu badan
perguruan tinggi yang dikenal dengan nama VTAC (The Victorian Tertiary
Admission Centre) untuk keperluan penempatan tamatan VCE itu di perguruan
tinggi. Alasan pemberian peringkat atau scaling system itu adalah ada mata
pelajaran yang sulit untuk mendapatkan nilai tinggi dan sebaliknya. Sebagai
akibatnya, ada nilai yang naik atau scaled up dan yang turun atau scaled down.
Nilai yang sudah diperingkatkan itu disebut ATAR (The Australian Tertiary
Admission Rank) dan berdasarkan nilai itu tamatan VCE masuk ke bidang studi
tertentu di perguruan tinggi. Universitas bergengsi dengan fasilitas lengkap
dan tenaga pengajar bereputasi internasional biasanya akan menetapkan ATAR
score yang lebih tinggi daripada universitas kecil untuk bidang studi yang
sama. Dengan sistem itu, tidak perlu lagi adanya ujian masuk ke perguruan
tinggi.
Sistem Ujian dan
Masuk ke Perguruan Tinggi
Untuk dapat lulus sekolah menengah di Australia ,
seorang siswa harus: (1) menyelesaikan mata pelajaran-mata pelajaran
sebagaimana ditetapkan oleh Curriculum Counci, paling tidak selama 10 tahun,
(2) memperoleh nilai rata-rata C atau lebih untuk mata pelajaran-mata pelajaran
sebagaimana ditetapkan oleh Curriculum Council selama delapan tahun (atau
sepadan dengan paling tidak empat tahun penuh atau sepadan dengan penyelesaian mata pelajaran di Kelas 12, (3) memenuhi
persyaratan kemampuan berbahasa Inggris dengan memperoleh nilai C atau lebih
dalam mata pelajaran mata pelajaran Bahasa Inggris, Sastra Inggris, Bahasa
Inggris Senior, Bahasa Inggris sebagai Bahasa Kedua atau Bahasa Inggris untuk
bekerja pada Kelas 12. Bila seorang siswa gagal memenuhi hal ini, kemampuan
berbahasa Inggris dapat dipenuhi dengan lulus tes Curriculum Council English
Language Competence Test. Siswa yang telah lulus akan memperoleh Western
Australia of Education (WACE). (Australian Curriculum, 2012)
Sementara di Indonesia,
ujian akhir untuk SD telah dihapuskan dan diganti dengan sistem ujian akhir
sekolah (UAS). Sejak tahun pelajaran 2002, ujian akhir nasional (UAN)
diberlakukan untuk SMP dan SMA untuk 6 mata pelajaran (1) Bahasa Indonesia,
Bahasa Inggris, Matematika, Fiska/Ekonomi, Kimia/Geografi, Biologi/Sosiologi, SMK
untuk tiga mata pelajaran, yakni (1) Bahasa Indonesia, (2) Bahasa Inggris, dan
(3) Matematika dua tahun terakhir ini ditambah dengan UN Mata Pelajaran
Produktif (Kejuruan). Untuk masuk ke perguruan tinggi negeri, lulusan sekolah
menengah tingkat atas harus lulus dalam UMPTN (ujian masuk Perguruan Tinggi
Negeri). Sedang untuk masuk ke perguruan tinggi swasta, mereka mengikuti
seleksi yang diadakan oleh perguruan tinggi swasta masing-masing
Kesimpulan
1. Perbedaan
Kurikulum Pendidikan di Indonesia dengan Pendidikan d Australia adalah
Australia menggunakan kurikulum sambung jaringan atau on-line kalau di
Indonesia menggunakan kurikulum KTSP
2. Kelebihan
Kurikulum Pendidikan di Australia dengan Pendidikan di Indonesia adalah bisa di
akses oleh seluruh masyarakat, lebih fleksibel
3.
Kekurangan Kurikulum Pendidikan di Indonesia dengan Pendidikan di
Australia . Kurikulum di Indonesia disusun berdasarkan SK dan KD oleh BNSP.
Tidak semua masyarakat bisa mengakses kurikulum tersebut.
Daftar Pustaka
Australian Curriculum, 2012
Australian Education,
2012
Nur Agustia Syah, P. D.
(2001). Perbandingan Sistem Pendidikan 15 Negara. Bandung: Lubuk Agung.
Report, E. f. (2011).
UNESCO.
The Global Competitiveness
refort, 2012-2013