Minggu, 09 Juni 2013

Teori belajar dan aplikasinya dalam pembelajaran

PENDAHULUAN
Latar Belakang
            Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tatalaku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, proses, cara, perbuatan mendidik.  (Nasional, 2012, hal. 263) . Pendidikan adalah  usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan  proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara yang termaktub dalam  UU RI No.  20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 1  (Hasbullah, 2012).
Dari defenisi pendidikan di atas menekankan pada titik tolak bahwa pendidikan adalah proses pemeblajaran dan pemebelajaran itu adalah perubahan tingkah laku. Pada sistem pendidikan untuk melaksanakan pembelajaran dibutuhkan beberapa teori pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut , seperti teori behavioristik, kognitivisme, humanistik, konstruktivisme.    
Dalam makalah kami ini akan membahas tentang Teori pembelajaran behavioristik . Teori behavioristik ini membahas tentang teori perubahan tingkah laku (Teori perilaku) . Teori perilaku menitik beratkan pada aspek-aspek eksternal belajar, termasuk stimuli eksternal, respon perilaku siswa, dan penguatan yang mengikuti respon yang sesuai. Berdasarkan dengan teori perilaku yang dikemukakan oleh Thorndike tentang Law of Effect dalam Budayasa (Dahar, 2011, hal. 11), bahwa respon menyenangkan yang dialami sebelumnya cenderung diulangi dan respon yang tidak menyenangkan yang dialami sebelumnya cenderung dibuang. Jadi menurut Thorndike kecuali hubungan antara stimulus dan respon, teori yang dikemukakan menekankan terutama pada prinsip-prinsip pengetahuan. . Sesuai dengan teori Thorndike di atas, pelaksanaan sistem pembelajaran di kelas tidak lepas dari pemberian penghargaan dan hukuman. Di samping dalam penyampaian pembelajaran guru kepada siswa tidak lepas dari penyampaian secara langsung informasi-informasi yang akan dipelajari oleh siswa. Sesuai dengan teori belajar perilaku agar ketuntasan belajar sains siswa dicapai maka materi ajar yang akan diberikan perlu dianalisis ke dalam bagian-bagian sederhana, menulis tujuan perilaku untuk tiap bagian, menyajikan informasi yang akan diberikan secara jelas dan ringkas, memberikan latihan-latihan berulang-ulang kepada siswa, memberikan umpan balik secepatnya terhadap respon yang diberikan siswa, dan sering mengulangi materi yang diajarkan.
Perbedaan konsep belajar menurut Thorndike, Skinner dan Pavlov
Perbedaan
Thorndike
Skinner
Pavlov
Jenis pengkondisian
Instrumental Conditioning
Operant Conditioning
Classical Conditioning
Extinction
Dalam law of exercise, apabila tida pelatihan selanjutnya, maka akan hilang perilaku yang telah kita dapat atau bentuk
Apabila tidak ada reward (reinforcement)
Extinction terjadi apabila tidak ad US dan hanya CS saja yang diberikan
Reinforcement
Reinforcement berada di akhir, dan digunakan untuk menimbulkan perilaku
Reinforcement boleh diberikan tetapi jangan berlebihan, hindari punishment
Reinforcement berda diawal, dan digunakan untuk pengkondisian
Generalisasi
Semakin dekat akan memberikan respon
-
Semakin mirip akan memberikan respon
Pengertian belajar
Belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat pula berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan.
Belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang harus dapat diukur.
Segala tingkah laku manusia juga tidak lain adalah hasil daripada conditioning. Yaitu hasil daripada latihan-latihan atau kebiasaan-kebiasaan mereaksi terhadap syarat-syarat atau perangsang-perangsang tertentu yang dialaminya dalam kehidupannya.
(Gredler, 2011)
Persamaan konsep belajar menurut Thorndike, Skinner dan Pavlov
  • Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon.
  • Dilakukan pemberian reinforcement untuk meningkatkan perilaku.
  • Dalam teknis penelitian menggunakan binatang.
  • Semua konsep belajar digunakan untuk membentuk perilaku, apabila tidak terjadi perubahan perilaku maka dianggap tidak mengalami proses belajar.
  • Menghindari punihsment dalam pembentukkan perilaku
Dalam hal ini mutu pendidikan selalu menjadi sorotan dari berbagai pihak. Mutu pendidikan sangat dipengaruhi oleh mutu pembelajaran. Sebenarnya banyak teori yang telah terbukti secara empiris dapat meningkatkan mutu pembelajaran. Salah satu di antaranya adalah teori behavioristik. Teori ini masih relevan dengan pembelajaran berbasis kompetensi. Pemahaman guru terhadap teori pembelajaran masih beragam sebahagian besar guru mengajar tidak berlandaskan teori belajar tertentu. Mereka mengajar yang penting tujuan tercapai dan pembelajaran dapat dinyatakan tuntas. Berdasarkan hal tersebut, maka sangat tepat jika teori behavioristik dikenalkan kembali sehingga guru dapat mengaplikasikannya dalam pembelajaran. Permasalahannya adalah bagaimana konsep teori behavioristik dan aplikasinya dalam pembelajaran? Kata kunci: behavioristik dan aplikasinya.

Rumusan Masalah
Bagaimana teroi behavioristik dan aplikasinya dalam pembelajaran

Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui bagaimana teroi behavioristik dan aplikasinya dalam pembelajaran

Manfaat Penulisan
1.      Pemahaman lebih lanjut tentang toeri behavioristik
2.      Penerapan dalam pembelajaran
3.      Pembelajaran supaya lebih baik lagi

PEMBAHASAN
Teori belajar merupakan landasan terjadinya suatu proses belajar yang menuntun terbentuknya kondisi untuk belajar. Teori belajar dapat didefenisikan sebagai integrasi prinsip-prinsip yang menuntun di dalam merancang kondisi demi tercapainya tujuan pendidikan. Dengan adanya teori belajar akan memberikan kemudahan bagi guru dalam menjalankan model-model pembelajaran yang akan dilaksanakan. Banyak telah ditemukan teori belajar yang pada dasarnya menitikberatkan ketercapaian perubahan tingkah laku setelah proses pembelajaran.

TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK
Belajar diartikan sebagai perolehan keterampilan dan ilmu pengetahuan. Pengetahuan mutakhir proses belajar diperoleh dari kajian pengolahan informasi, neurofisiologi, neuropsikologi, dan sains kognitif.

Prinsip Prinsip Teori Behavioristik:
1. Obyek psikologi adalah tingkah laku
2. Semua bentuk tingkah laku di kembalikan pada refleks
3. Mementingkan pembentukan kebiasaan
TEORI PEMBELAJARAN BEHAVIORAL
PEMBELAJARAN SEBAGAI SALAH SARU PERUBAHAN BENTUK ATAU FREKUENSI TINGKAH LAKU
DALAM BENTUK PENDEKATAN BEHAVIORALTINGKAH LAKU PELAJAR DINILAI SEBELUM MEMULAI PENGAJARAN
PEMBELAJARAN MEMERLUKAN PENYUSUNAN (STIMULI) RANGSANGAN DALAM PERSEKITARAN  SUPAYA PELAJAR DAPAT RESPON DAN DIBERI PENGUKUHAN
 




















Kerangka Berfikir Teori Behavioristik:
Ciri dari teori ini adalah mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil, bersifat mekanistis, menekankan peranan lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi atau respon, menekankan pentingnya latihan, mementingkan mekanisme hasil belajar, mementingkan peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya perilaku yang diinginkan. Pada teori belajar ini sering disebut S-R psikologis artinya bahwa tingkah laku manusia dikendalikan oleh ganjaran atau reward dan penguatan atau reinforcement dari lingkungan. Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi-reaksi behavioural dengan stimulusnya. Guru yang menganut pandangan ini berpandapat bahwa tingkahlaku siswa merupakan reaksi terhadap lingkungan dan tingkah laku adalah hasil belajar.

Implikasi Teori Behavioristik dalam Pembelajaran:
Implikasi teori behavioristik dalam pembelajaran dapat dideskripsikan sebagai berikut:
  1. Pembelajaran adalah upaya alih pengetahuan dari guru kepada siswa.
  2. Tujuan pembelajaran lebih ditekankan pada bagaimana menambah pengetahuan.
  3. Strategi pembelajaran lebih ditekankan pada perolehan keterampilan yang terisolasi dengan akumulasi fakta yang berbasis pada logika liner.
  4. Pembelajaran mengikuti aturan kurikulum secara ketat dan belah lebih ditekankan pada keterampilan mengungkapkan kembali apa yang dipelajari.
  5. Kegagalan dalam belajar atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum, dan keberhasilan atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas diberi hadiah.
  6. Evaluasi lebih ditekankan pada respons pasif melalui sistem paper and pencil test dan menuntut hanya ada satu jawaban yang benar. Dengan demikian, evaluasi lebih ditekankan pada hasil dan bukan pada proses, atau sintesis antara keduanya.

Kelebihan Teori Belajar Behavioristik:
  1. Guru tidak banyak memberikan ceramah, tetapi instruksi singkat yang diikuti contoh-contoh baik dilakukan sendiri maupun melalui stimulasi.
  2. Bahan pelajaran disusun secara hirarki dari yang sederhana sampai pada yang kompleks.
  3. Tujuan pembelajaran dibagi dalam bagian-bagian kecil yang ditandai dengan pencapaian suatu ketrampilan tertentu.
  4. Pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati dan jika terjadi kesalahan harus segera diperbaiki.
  5. Pengulangan dan latihan digunakan supaya perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan.
  6. Metode behavioristik ini sangat cocok untuk pemerolehan kemampuan yang membutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti: kecepatan, spontanitas, kelenturan, rafleks, daya tahan dan sebagainya contohnya: percakapan bahasa asing, mengetik, menari, menggunakan komputer, berenang, olahragam dan sebagainya. Teori ini juga cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominasi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau pujian.

Kekurangan Teori Belajar Behavioristik:
  1. Pembelajaran siswa yang berpusat pada guru (teacher centered learning), bersifat mekanistik, dan hanya berorientasi pada hasil yang dapat diamati dan diukur.
  2. Mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan bagi siswa sebagai sentral, bersikap otoriter, komunikasi berlangsung satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari murid.
  3. Murid dipandang pasif, perlu motivasi dari luar, dan sangat dipengaruhi oleh penguatan yang diberikan guru.
  4. Murid hanya mendengarkan dengan tertib penjelasan guru dan menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif.
  5. Penggunaan hukuman yang sangat dihindari oleh para tokoh begavioristik justru dianggap metode yang paling efektif untuk menertibkan siswa.

Aplikasi Teori Behavioristik Terhadap Pembelajaran
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menerapkan teori-teori behavioristik adalah ciri-ciri kuat mendasarinya yaitu:
  1. Mementingkan pengaruh lingkungan.
  2. Mementingkan bagian-bagian (elementalistik).
  3. Mementingkan peranan reaksi.
  4. Mengutamakan mekanisme terbentuknya hasil belajar melalui prosedur stimulus respon.
  5. Mementingkan peranan kemampuan yang sudah terbentuk sebelumnya.
  6. Mementingkan pembentukan kebiasan melalui latihan dan pengulangan.
  7. Hasil belajar yang dicapai adalah munculnya perilaku yang diinginkan
Berdasarkan teori-teori yang sudah dikemukakan, para guru yang menggunakan paradigma behaviorisme akan menyusun bahan ajar secara matang, sehingga tujuan pembelajaran yang harus dikuasai siswa disampaikan secara utuh oleh guru. Guru harus memberikan stimulus sebanyak-banyaknya agar siswa melakukan respon positif, selain itu seorang guru juga harus mampu memilah dan memilih stimulus yang bisa menyentuh perhatian siswa yang tidak kalah pentingnya dalam menyusun bahan ajar harus disusun secara hierarki dari yang paling sederhana samapi pada hal yang kompleks.
Dalam menentukan tujuan pembelajaran dibagi dalam bagian kecil yang ditandai dengan pencapaian suatu ketrampilan tertentu atau kompetensi dasar (KD), dan indikator-indikator yang berorientasi pada tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dan harus dapat diukur. Kesalahan harus segera diperbaiki. Pengulangan dan latihan digunakan supaya perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan. Hasil yang diharapkan dari penerapan teori behavioristik ini adalah tebentuknya suatu perilaku yang diinginkan. Perilaku yang diinginkan mendapat penguatan positif dan perilaku yang kurang sesuai mendapat penghargaan negatif. Evaluasi atau penilaian didasari atas perilaku yang tampak.
Saran dan kritik terhadap behavioristik adalah pembelajaran siswa yang berpusat pada guru, bersifaat mekanistik, dan hanya berorientasi pada hasil yang dapat diamati dan diukur. Kritik ini sangat tidak berdasar karena penggunaan teori behavioristik mempunyai persyaratan tertentu sesuai dengan ciri yang dimunculkannya. Tidak setiap mata pelajaran bisa memakai metode ini, sehingga kejelian dan kepekaan guru pada situasi dan kondisi belajar sangat penting untuk menerapkan kondisi behavioristik.
Dari beberapa metode berdasarkan analisa penulis, maka metode behavioristik ini paling cocok untuk diterapkan pada siswa untuk melatih kemampuan-kemampaun yang membutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti : Ketangkasan, kecepatan, spontanitas, kelenturan, refleksi, daya tahan dan sebagainya, contohnya: kegiatan olah raga, menggambar, menari, menggunakan komputer, berenang, olahraga dan sebagainya. Teori ini juga cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominansi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau pujian.
Penerapan teori behaviroristik yang salah dalam suatu situasi pembelajaran juga mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai central, bersikap otoriter, komunikasi berlangsung satu arah (one way prefic comunication), guru melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari murid. Siswa dipandang pasif , perlu motivasi dari luar, dan sangat dipengaruhi oleh penguatan yang diberikan guru. Siswa hanya mendengarkan denga tertib penjelasan guru dan menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif. Penggunaan hukuman yang sangat dihindari oleh para tokoh behavioristik justru dianggap metode yang paling efektif untuk meningkatkan kompetensi siswa.
Tujuan pembelajaran menurut teori behavioristik ditekankan pada penambahan pengetahuan, sedangkan belajar sebagi aktivitas “mimetic”, yang menuntut pebelajar untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan, kuis, atau tes. Penyajian isi atau materi pelajaran menekankan pada ketrampilan yang terisolasi atau akumulasi fakta mengikuti urutan dari bagian ke keseluruhan. Pembelajaran mengikuti urutan kurikulum secara ketat, sehingga aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku teks/buku wajib dengan penekanan pada keterampilan mengungkapkan kembali isi buku teks/buku wajib tersebut. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil belajar.
Evaluasi menekankan pada respon pasif, keterampilan secara terpisah, dan biasanya menggunakan paper and pencil test. Evaluasi hasil belajar menuntut jawaban yang benar. Maksudnya bila pebelajar menjawab secara “benar” sesuai dengan keinginan guru, hal ini menunjukkan bahwa pebelajar telah menyelesaikan tugas belajarnya. Evaluasi belajar dipandang sebagi bagian yang terpisah dari kegiatan pembelajaran, dan biasanya dilakukan setelah selesai kegiatan pembelajaran. Teori ini menekankan evaluasi pada kemampuan pebelajar secara individual.
Menurut teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu apabila ia mampu menunjukkan perubahan tingkah laku. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon. Menurut teori ini yang terpenting adalah masuk atau input yang berupa stimulus dan keluaran atau output yang berupa respon. Sedangkan apa yang terjadi di antara stimulus dan respon dianggap tidak penting diperhatikan karena tidak bisa diamati. Faktor lain yang juga dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement) penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respon. Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu juga bila penguatan dikurangi (negative reinforcement) respon pun akan tetap dikuatkan. Teori behavioristik didukung oleh Thorndike, Ivan Plavov, Albert Bandura , Watson, Edwin Guthrie, Clark Hull dan Skinner
Salah satu teori psikologi belajar, yang merupakan teori awal tentang belajar adalah Teori Behavioristik yaitu teori belajar yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia. Memandang individu sebagai makhluk reaktif yang memberi respon terhadap lingkungan. Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka. Ada 3 jenis belajar menurut teori Behavioristik yaitu (1) Classical / Respondent Conditioning, (2) Operant Conditioning dan (3) Observational Learning atau sosial-cognitive Learning. (Dahar, 2011, hal. 18)

1.      Teori Belajar  (Classical / Respondent Conditioning)
a.      Teori belajar Pavlov
Classic conditioning ( pengkondisian atau persyaratan klasik) adalah proses yang ditemukan Pavlov melalui percobaannya terhadap anjing, dimana perangsang asli dan netral dipasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang sehingga memunculkan reaksi yang diinginkan. Teori belajar Respondent Conditioning (pengkondisian respon) diperkenalkan oleh Pavlov, yang didasarkan pada pemikiran bahwa perilaku atau tingkah laku merupakan respon yang dapat diamati dan diramalkan. Fisiolog Pavlov (1849-1936) mengkaji stimuli (rangsangan tak bersyarat) yang secara spontan memanggil respon. Melalui Conditioning, stimuli netral (netral spontan) memancing refleks namun sengaja dibuat agar mampu memancing respon refleks. Bila satu stimuli menghasilkan respon, maka stimuli kedua yang tidak relevan dihadirkan serempak dengan stimuli pertama, dan akhirnya respon tadi muncul tanpa perlu menghadirkan stimuli pertama. (Dahar, 2011, hal. 18)
b. Eksperimen – Eksperimen Pavlov
Eksperimen-eksperimen yang dilakukan Pavlov tampaknya sangat terpengaruh pandangan behaviorisme, Pavlov mengadakan eksperimen dengan menggunakan binatang (anjing) karena ia menganggap binatang memiliki kesamaan dengan manusia. Ia mengadakan percobaan dengan cara mengadakan operasi leher pada seekor anjing, sehingga kelihatan kelenjar air liurnya dari luar. Apabila diperlihatkan sesuatu makanan, maka akan keluarlah air liur anjing tersebut. Kini sebelum makanan diperlihatkan, maka yang diperlihatkan adalah sinar merah terlebih dahulu, baru makanan. Dengan sendirinya air liurpun akan keluar pula. Apabila perbuatan yang demikian dilakukan berulang-ulang, maka pada suatu ketika dengan hanya memperlihatkan sinar merah saja tanpa makanan maka air liurpun akan keluar pula. Dari eksperimen Pavlov setelah pengkondisian atau pembiasaan dapat diketahui bahwa daging yang menjadi stimulus alami dapat digantikan oleh bunyi lonceng sebagai stimulus yang dikondisikan. Ketika lonceng dibunyikan ternyata air liur anjing keluar sebagai respon yang dikondisikan.
PLAZIMAN PLAVOV
SEBELUM PELAZIMAN
PROSES PELAZIMAN
SESUDAH PEALAZIMAN
Rangsangan tak terlazim
Makanan
 


Gerak balas tak terlazim
Perembesan
 


Rangsangan neutral
(bunyi lonceng)
 


Tiada gerak balas
(tiada perembesan)
Eksprimen :
1.      Bunyi lonceng
2.      Tunggu sementara
3.      Diberikan makanan
4.      Diberikan berulang-ulang
Rangsangan tak terlazim
Makanan
 


Gerak balas tak terlazim
Perembesan
 


Rangsangan terlazim
(bunyi lonceng)
 


Gerak balas terlazim
(Perembesan)

c. Hukum-hukum belajar Pavlov
Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya : (Gredler, 2011)
1)      Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer), maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat.
2)      Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan menurun.
d.Aplikasi teori Pavlov
Aplikasi teori Pavlov terhadap pembelajaran siswa yaitu : mementingkan pengaruh lingkungan, mementingkan bagian-bagian, mementingkan peranan reaksi, mengutamakan mekanisme terbentuknya hasil belajar melalui prosedur stimulus respon, mementingkan peranan kemampuan yang sudah terbentuk sebelumnya, mementingkan pembentukan kebiasaan melalui latihan dan pengulangan, hasil belajar yang dicapai adalah munculnya perilaku yang diinginkan.

e. Kekurangan
Proses pembelajaran sangat tidak menyenangkan bagi siswa karena guru sebagai sentral, bersikap otoriter, komunikasi berlangsung satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari murid. Murid dipandang pasif, Perlu motivasi dari luar, dan sangat dipengaruhi oleh penguatan yang diberikan guru. Murid hanya mendengarkan dengan tertib penjelasan guru dan menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai belajar yang efektif. Guru tidak memperhatikan individual-differences. (wikipedia, 2012)

f. Kelebihan
Cocok untuk pemerolehan kemampuan yang membutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti : kecepatan, spontanitas, kelenturan, refleks, daya tahan dan sebagainya. Teori ini juga cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominasi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentuk- bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau pujian. (wikipedia, 2012)

Menurut Thorndike, belajar merupakan peristiwa terbantuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dan respon (R).
Teori Thorndike disebut dengan teori belajar koneksionisme atau teori asosiasi.

a. Definisi Teori Belajar Menurut Thordike
Teori belajar Thorndike dikenal dengan “Connectionism”. Hal ini terjadi karena menurut pandangan Thorndike bahwa belajar merupakan proses interaksi antara stimulus dan respon. Jadi perubahan tingkah laku akibat kegiatan belajar dapat berwujud konkrit, yaitu yang dapat diamati, atau tidak konkrit yaitu yang tidak dapat diamati. Teori dari Thorndike dikenal pula dengan sebutan “Trial and error” dalam menilai respon-respon yang terdapat bagi stimulus tertentu. (Dahar, 2011)

b. Eksperimen – Eksperimen Thorndike
Pada mulanya, model eksperimen Thorndike yaitu dengan mempergunakan kucing sebagai subjek dalam eksperimennya Dengan konstruksi pintu kurungan yang dibuat sedemikian rupa, sehingga kalau kucing menyentuh tombol tertentu, maka pintu kurungan akan terbuka dan akhirnya kucing dapat keluar dan mancapai makanan ( daging ) yang ditempatkan di luar kurungan sebagai hadiah atau daya penarik bagi kucing yang lapar tersebut. Thordike menafsirkan bahwa “kucing itu sebenarnya tidak mengerti cara membebaskan diri dari kurungan itu, tetapi dia belajar mencamkan ( mempertahankan ) respon – respon yang benar dan menghilangkan atau meninggalkan respon – respon yang salah.”
Eksperimen Thorndike tersebut mempengaruhi pikirannya mengenai belajar pada taraf insansi ( human ). (Gredler, 2011)

c. Ciri – Ciri Belajar Menurut Thorndike
Adapun beberapa ciri – ciri belajat menurut Thorndike, antara lain :
1. Ada motif pendorong aktivitas
2. Ada berbagai respon terhadap sesuatu.
3. Ada aliminasi respon - respon yang gagal atau salah
4. Ada kemajuan reaksi – reaksi mencapai tujuan dari penelitiannya itu.

d. Hukum –Hukum Teori Belajar Thorndike
Thorndike mengemukakan bahwa asosiasi antara stimulus dan respons mengikuti hukum-hukum berikut: (Gredler, 2011)
Hukum kesiapan
yaitu semakin siap suatu organisme memperoleh perubahan tingkah laku maka pelaksanaan tingkah laku tersebut akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosiasi cenderung diperkuat.
Hukum latihan
Yaitu semakin sering suatu tingkah laku diulang/dilatih(digunakan) maka asosiasi tersebut akan semakin kuat.
 Hukum Akibat
Yaitu hubungan stimulus respons cenderung diperkuat bila akibatnya menyenangkan dan cenderung diperlemah jika akibatnya tidak memuaskan.
e. Penerapan Teori Belajar Thorndike
1.      Guru harus tahu apa yang akan diajarkan, materi apa yang harus diberikan, respon apa yang diharapkan, kapan harus memberi hadiah atau membetulkan respon. Oleh karena itu tujuan pedidikan harus dirumuskan dengan jelas.
2.      Tujuan pendidikan harus masih dalam batas kemampuan belajar peserta didik. Dan terbagi dalam unit-unit sedemikian rupa sehingga guru dapat menerapkan menurut bermacaam-macam situasi
3.      Agar peserta didik dapat mengikuti pelajaran, proses belajar harus bertahap dari yang sederhana sampai yang kompleks.
4.      Dalam belajar motivasi tidak begitu penting karena yang terpenting adalah adanya respon yang benar terhadap stimulus.
5.      Peserta didik yang telah belajar dengan baik harus diberi hadiah dan bila belum baik harus segera diperbaiki.
6.      Situasi belajar harus dibuat menyenangkan dan mirip dengan kehidupan dalam masyarakat.
7.      Materi pelajaran harus bermanfaat bagi peserta didik untuk kehidupan anak kelak setelah keluar dari sekolah.
8.      Pelajaran yang sulit, yang melebihi kemampuan anak tidak akan meningkatkan kemampuan penalarannya. (wikipedia, 2012)

f. Kelebihan Teori Belajar Thorndike
Dengan sering melakukan pengulangan dalam memecahkan suatu permasalahan, anak didik akan memiliki sebuah pengalaman yang berharga. Selain itu dengan adanya sistem pemberian hadiah, akan membuat anak didik menjadi lebih memiliki kemauan dalam memecahkan permasalahan yang dihadapinya.

2.      Teori Belajar Operant Conditioning
a. B. F. Skinner
B.F. Skinner sebagai tokoh teori belajar Operant Conditioning berpendapat bahwa belajar menghasilkan perubahan perilaku yang dapat diamati, sedang perilaku dan belajar diubah oleh kondisi di lingkungan. Teori Skinner (1954) sering disebut Operant Conditioning yang berunsur rangsangan atau stimuli, respon, dan konsekuensi. Stimuli (tanda/syarat) bertindak sebagai pemancing respon, sedangkan konsekuensi tanggapan dapat bersifat positif atau negatif, namun keduanya memperkukuh atau memperkuat (reinforcement). (Dahar, 2011, hal. 19)
Perbandingan antara teori belajar Classical Conditioning  dan teori belajar Operant Conditioning  dikemukakan oleh Skinner dan Lefrancois. Skinner menyebutkan bahwa banyak respon yang tidak hanya dipancing stimuli tetapi dapat dikondisikan pada stimuli lain. Respon ini adalah kategori perilaku pertama, disebut respondent behavior karena perilaku muncul sebagai respon atas stimuli. Selanjutnya dapat muncul kategori perilaku ke dua (perilaku yang tidak dipancing stimuli), yang disebut Operant Behavior sebab telah dikerjakan pebelajar.
Generalisasi adalah pola merespon yang dilakukan individu terhadap lingkungan atau stimuli serupa, sedangkan diferensiasi adalah pola merespon individu dengan cara mengekang diri untuk tidak merespon karena ada perbedaan antar dua situasi serupa meski tidak sama, yang sebenarnya sesuai direspon. Menggeneralisasi berarti merespon situasi serupa, sedangkan mendeferensiasi berarti merespon dengan cara membedakan antara situasi saat dua respon identik yang tidak sesuai dimunculkan.
Penerapan Operant Conditioning  dalam pendidikan dikemukakan oleh Fred Keller (1968) dengan judul kegiatan self-paced learning. Guru merancang mata pelajaran yang dilengkapi bahan bacaan untuk dikaji pebelajar. Ketika pebelajar merasa siap diuji, ia menempuh tes agar lulus pada penggalan belajar yang telah ditempuhnya. Jika lulus, ia maju kepenggalan berikutnya. Jadi pebelajar sendiri yang menetapkan kecepatan dan jangka waktu belajarnya. (Dahar, 2011)

a. Sejarah Munculnya Teori Kondisioning Operan B.F    Skinner
Asas pengkondisian operan B.F Skinner dimulai awal tahun 1930-an, pada waktu keluarnya teori S-R. Pada waktu keluarnya teori-teori S-R. Skinner tidak sependapat dengan pandangan S-R dan penjelasan reflex bersyarat dimana stimulus terus memiliki sifat-sifat kekuatan yang tidak mengendur. Menurut Skinner penjelasan S-R tentang terjadinya perubahan tingkah laku tidak lengkap untuk menjelaskan bagaimana organisme berinteraksi dengan lingkungannya. (Gredler, 2011)
b. Kajian Umum Teori B.F Skinner
Inti dari teori behaviorisme Skinner adalah Pengkondisian operan (kondisioning operan). Pengkondisian operan adalah sebentuk pembelajaran dimana konsekuensi-konsekuensi dari prilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas prilaku itu akan diulangi. Ada 6 asumsi yang membentuk landasan untuk kondisioning operan (Margaret E. Bell Gredler, hlm 122). Asumsi-asumsi itu adalah sebagai berikut:
  1. Belajar itu adalah tingkah laku.
  2. Perubahan tingkah-laku (belajar) secara fungsional berkaitan dengan adanya perubahan dalam kejadian-kejadian di lingkungan kondisi-kondisi lingkungan.
  3. Hubungan yang berhukum antara tingkah-laku dan lingkungan hanya dapat di tentukan kalau sifat-sifat tingkah-laku dan kondisi eksperimennya di devinisikan menurut fisiknya dan di observasi di bawah kondisi-kondisi yang di control secara seksama.
  4. Data dari studi eksperimental tingkah-laku merupakan satu-satunya sumber informasi yang dapat di terima tentang penyebab terjadinya tingkah laku.
 Penguatan berarti memperkuat. Skinner membagi penguatan ini menjadi dua bagian: (Dahar, 2011)
-      Penguatan positif adalah penguatan berdasarkan prinsif bahwa frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan stimulus yang mendukung (rewarding). -       Penguatan negatif, adalah penguatan berdasarkan prinsif bahwa frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang merugikan (tidak menyenangkan).
Belajar, yang digambarkan oleh makin tingginya angka keseringan respons, diberikan sebagai fungsi urutan ketiga unsure (SD)-(R)-(R Reinsf). (Gredler, 2011)
c. Prinsip Belajar Teori Belajar Skinner
Dengan demikian beberapa prinsip belajar yang dikembangkan oleh Skinner antara lain:
-      Hasil belajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan,         jika benar diberi penguat.
-      Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.
-      Materi pelajaran, digunakan sistem modul.
-      Dalam proses pembelajaran, lebih dipentingkan aktivitas sendiri.
-      Dalam proses pembelajaran, tidak digunakan hukuman. Namun ini lingkungan perlu diubah, untuk menghindari adanya hukuman.
-      Tingkah laku yang diinginkan pendidik, diberi hadiah, dan sebagainya
-      Dalam pembelajaran, digunakan shaping.
d. Hukum-Hukum Teori Belajar Skinner
Disamping itu pula dari eksperimen yang dilakukan B.F. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya : (Gredler, 2011)
  1. Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.
  2. Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning  itu tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah.
e. Aplikasi Teori Skinner Terhadap Pembelajaran.
Beberapa aplikasi teori belajar Skinner dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:
-      Bahan yang dipelajari dianalisis sampai pada unit-unit secara organis.
-      Hasil berlajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan dan jika benar diperkuat.
-      Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.
-      Materi pelajaran digunakan sistem modul.
-      Tes lebih ditekankan untuk kepentingan diagnostic.
-      Dalam proses pembelajaran lebih dipentingkan aktivitas sendiri.
-      Dalam proses pembelajaran tidak dikenakan hukuman.
-      Dalam pendidikan mengutamakan mengubah lingkungan untuk mengindari pelanggaran agar tidak menghukum.
-      Tingkah laku yang diinginkan pendidik diberi hadiah.
-      Hadiah diberikan kadang-kadang (jika perlu)
-      Tingkah laku yang diinginkan, dianalisis kecil-kecil, semakin meningkat mencapai tujuan.
-      Dalam pembelajaran sebaiknya digunakan shaping.
-      Mementingkan kebutuhan yang akan menimbulkan tingkah laku operan.
-      Dalam belajar mengajar menggunakan teaching machine.
-      Melaksanakan mastery learning yaitu mempelajari bahan secara tuntas menurut waktunya masing-masing karena tiap anak berbeda-beda iramanya. Sehingga naik atau tamat sekolah dalam waktu yang berbeda-beda. Tugas guru berat, administrasi kompleks. (wikipedia, 2012)
f.        Analisis Perilaku Terapan Dalam Pendidikan
Analisis Perilaku terapan adalah penerapan prinsip pengkondisian operan untuk mengubah perilaku manusia. Ada tiga penggunaan analisis perilaku yang penting dalam bidang pendidikan yaitu
  1. Meningkatkan perilaku yang diinginkan.
  2. Menggunakan dorongan (prompt) dan pembentukkan (shaping).
  3. Mengurangi perilaku yang tidak diharapkan.
g. Kelebihan dan Kekurangan Teori Skinner
Kelebihan
Pada teori ini, pendidik diarahkan untuk menghargai setiap anak didiknya. hal ini ditunjukkan dengan dihilangkannya sistem hukuman. Hal itu didukung dengan adanya pembentukan lingkungan yang baik sehingga dimungkinkan akan meminimalkan terjadinya kesalahan.
Kekurangan
Beberapa kelemahan  dari teori ini berdasarkan analisa teknologi (Margaret E. B. G. 1994) adalah bahwa: (i) teknologi untuk situasi yang kompleks tidak bisa lengkap; analisa yang berhasil bergantung pada keterampilan teknologis, (ii) keseringan respon sukar diterapkan pada tingkah laku kompleks sebagai ukuran peluang kejadian. Disamping itu pula, tanpa adanya sistem hukuman akan dimungkinkan akan dapat membuat anak didik menjadi kurang mengerti tentang sebuah kedisiplinan. hal tersebuat akan menyulitkan lancarnya kegiatan belajar-mengajar. Dengan melaksanakan mastery learning, tugas guru akan menjadi semakin berat.

3.      Teori Observational Learning (Belajar Pengamatan) atau sociocognitive Learning (Belajar Sosio-Kognitif)
Albert Bandura
Proses belajar yang bersangkut-paut dengan peniruan disebut belajar observasi (Observational Learning). Albert Bandura (1969) menjelaskan bahwa belajar observasi merupakan sarana dasar untuk memperoleh perilaku baru atau mengubah pola perilaku yang sudah dikuasai. Belajar observasi biasa juga disebut belajar sosial (social learning) karena yang menjadi objek observasi pada umumnya perilaku belajar orang lain. Belajar sosial mencakup belajar berperilaku yang diterima dan yang diharapkan publik agar dikuasai individu. Di dalam belajar sosial, berlangsung proses belajar berperilaku yang tidak diterima publik.  Perilaku yang diterima secara sosial itu  bervariasi sesuai budaya, sub-budaya, dan golongan masyarakat. (Dahar, 2011, hal. 22)
Diterima atau tidak diterimanya perilaku sosial ditentukan oleh situasi dan tempat. Social Learning mengkaji rangkaian perilaku yang dapat diterima secara sosial dalam kondisi apa saja. Belajar meniru disebut belajar observasi (Observasi Learning), yang meliputi aktifitas menguasai respon baru atau mengubah respon lama sebagai hasil dari mengamati perilaku model.
Albert Bandura (1969) mengartikan belajar sosial sebagai aktivitas meniru melalui pengamatan atau observasi. Individu yang perilakunya ditiru menjadi model pebelajar yang meniru. Istilah modeling digunakan untuk menggambarkan proses belajar sosial. Model merujuk pada seseorang yang berperilaku sebagai stimuli bagi respon pebelajar.
Pada prinsipnya kajian teori behavioristik mengenai hakikat belajar berkaitan dengan perilaku atau tingkah laku. Hasil belajar diukur berdasarkan terjadi-tidaknya perubahan tingkah laku atau pemodifikasian tingkah laku yang lama menjadi tingkah laku yang baru. Tingkah laku dapat disebut sebagai hasil pemodifikasian tingkah laku lama, sehingga apabila tingkah laku yang lama berubah menjadi tingkah laku yang baru dan lebih baik dibandingkan dengan tingkah laku yang lama. Perubahan tingkah laku di sana bukanlah tingkah laku tertentu, tetapi perubahan tingkah laku secara keseluruhan yang telah dimiliki seseorang. Hal itu berarti perubahan tingkah laku itu menyangkut perubahan tingkah laku kognitif, tingkah laku afektif, dan tingkah laku psikomotor. (Dahar, 2011)

KESIMPULAN
Belajar menurut teori behavioristik merupakan perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Sedangkan apa yang terjadi di antara stimulus dan respon dianggap tidak penting diperhatikan karena tidak bisa diamati. Faktor lain yang juga dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement) penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respon. Prinsip penerapan teori belajar ini adalah: (1) belajar itu berdasarkan keseluruhan; (2) Anak yang belajar merupakan keseluruhan; (3) Belajar berkat insight dan (5) Belajar berdasarkan pengalaman.

DAFTAR PUSTAKA
Dahar, r. w. (2011). Teori_teroi Belajar & Pembelajaran. Jakarta: Erlangga.
Gredler, M. E. (2011). Learning and Instruction (Teori dan Aplikasi ). Jakarta: Kencana Prenada Media Grouf.
Hasbullah, D. (2012). UU RI No 20 Tahun 2003 . Jakarta: Bumi Aksara.
Nasional, P. B. (2012). Pengertian pendidikan. Jakarta: Kamus Bahasa Besar Indonesia.
wikipedia. (2012). teori behavioristik. jakarta: ensiklopedia bebas.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar