Senin, 29 April 2013

UTS Teori Belajar dan Pembelajaran


 


TUGAS UJIAN MID SEMESTER  MATA KULIAH
TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
NAMA           : EMI KALSUM
N I M           : 06122503022

PROGRAM STUDI
MAGISTER TEKNOLOGI PENDIDIKAN
FKIP UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2013
 










1.      Gagne melihat proses belajar mengajar dibagi menjadi beberapa komponen penting yaitu (1). Fase – fase pembelajaran
KEJADIAN=KEJADIAN BELAJAR
(Dahar, 2012, hal. 126)
PEMANGGILAN
KODING MULAI PENYIMPANAN
TRANSFER
PEMBERIAN RESPON
REINFORCEMENT
HARAPAN
PERHATIAN PERSEPSI SELEKTIF
PENYIMPANAN MEMORI
FASE MOTIVASI


       FASE PENGENALAN


                         FASE PEROLEHAN
                                    

                                        FASE RETENSI
                                          

                                           FASE PEMANGGILAN


                                                     FASE GENERALISASI


                                                                  FASE PENAMPILAN


                                                                        FASE UMPAN BALIK
              Robert M. Gagne adalah seorang ahli psikologi yang banyak melakukan penelitian mengenai fase-fase belajar, tipe-tipe kegiatan belajar, dan hirarki belajar. Dalam penelitiannya ia banyak menggunakan materi matematika sebagai medium untuk mengujipenerapan teorinya ((Depdiknas, 2005, hal. 13)Gagne dalam (Dimyati, 2005, hal. 14)menyatakan belajar merupakan kegiatan yang kompleks. Setelah belajar orang memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap, dan nilai. Dengan demikian belajar adalah seperangkat proses kognitif yang mengubah sifat stimulus lingkungan, melewati pengolahan informasi, menjadi kapabilitas baru.
Menurut Hudojo (1990:13) teori merupakan prinsip umum yang didukung oleh data dengan maksud untuk menjelaskan suatu fenomena. Sedangkan belajar merupakan suatu usaha yang berupa kegiatan hingga terjadi perubahan tingkah laku yang relatif/ tetap. Dari pengertian teori dan belajar tersebut, secara ringkas dapatlah dikatakan, teori belajar menyatakan hukum-hukum/ prinsip-prinsip umum yang melukiskan yang melukiskan kondisi terjadinya belajar.Dalam  teorinya, Gagne mengemukakan delapan fase dalam suatu tindakan belajar (Dahar, 2012, hal. 124-126). Fase-fase itu merupakan kejadian-kejadian eksternal yang dapat distruktur oleh siswa. Kedelapan fese yang dimaksud adalah sebagai berikut :
1.      Fase Motivasi
Siswa (yang belajar) harus diberi motivasi untuk belajar dengan harapan, bahwa belajar akan memperoleh hadiah. Misalnya, siswa-siswa dapat mengharapkan bahwa informasi akan memenuhi keingintahuan merekatentang suatu pokok bahasan, akan berguna bagi mereka atau dapat menolong mereka untuk memperoleh angka yang lebih baik. 
2.      Fase Pengenalan
Siswa harus memberi perhatian pada bagian-bagian yang esensial dari suatu kajian instruksional, jika belajar akan terjadi. Misalnya, siswa memperhatikan aspek-aspek yang relevan tentang apa yang dikatakan guru, atau tentang gagasan-gagasan utama dalam buku teks. 
3.      Fase Perolehan
Bila siswa memperhatikan informasi yang relevan, maka ia telah siap untuk menerima pelajaran. Informasi tidak langsung terserap dalam memori ketika disajikan, informasi itu di ubah kedalam bentuk yang bermakna yang dihubungkan dengan materi yang telah ada dalam memori siswa. 
4.      Fase Retensi
Informasi baru yang diperoleh harus dipindahkan dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang. Ini dapat terjadi melalui pengulangan kembali (rehearsal), praktek (practice), elaborasi atau lain-lainnya.
5.      Fase Pemanggilan
Mungkin saja kita dapat kehilangan hubungan dengan informasi dalam memori jangka-panjang. Jadi bagian penting dalam belajar adalah belajar memperoleh hubungan dengan apa yang telah dipelajari, untuk memangil informasi yang telah dipelajari sebelumnya.
6.      Fase Generalisasi
Biasanya informasi itu kurang nilainya jika tidak dapat diterapkan di luar konteks dimana informasi itu dipelajari. Jadi, generalisasiatau transfer informasi pada situasi-situasi baru merupakan fase kritis dalam belajar. Transfer dapat ditolong dengan memintapara siswa untuk menggunakan informasi dalam keadaan baru.
7.       Fase Penampilan
Siswa harus memperhatikan bahwa mereka telah belajar sesuatu melalui penampilan yang tampak.
8.      Fase Umpan Balik
Para siswa memperoleh umpan balik tentang penampilan mereka yang menunjukkan apakah mereka telah atau belum mengerti tentang apa yang diajarkan.
(2). Kategori utama kapabilitas/kemampuan manusia/outcomes
                Selama ini kita merumuskan kompetensi dasar berdasarkan taksonomi Bloom  dengan tiga domainnya, yaitu : domain kognitif, domain afektif, dan domain psikomotor.  Padahal Gagne mengembangkan pula tujuan-tujuan belajar yang dikenal dengan  taksonomi Gagne.  Menurut Gagne tingkah laku manusia yang sangat bervariasi dan berbeda  dihasilkan dari belajar. Kita dapat mengklasifikasikan tingkah laku sedemikian rupa  sehingga dapat diambil implikasinya yang bermanfaat dalam proses belajar.  Gagne mengemukakan bahwa keterampilan-keterampilan yang dapat diamati  sebagai hasil-hasil belajar disebut kemampuan-kemampuan atau disebut juga  kapabilitas.   Kapabilitas merupakan kemampuan yang dimiliki manusia karena ia belajar.  Kapabilitas dapat diibaratkan sebagai tingkah laku akhir dan ditempatkan pada  puncak membentuk suatu piramida. Misalnya seseorang tidak akan dapat  menyelesaikan tugasnya apabila tidak terlebih dahulu mengerjakan tugas a dan b.  Piramida tersebut digambarkan sebagai berikut :
KAPABILITAS
A
B
 




            Akan tetapi untuk menyelesaikan tugas a seseorang mesti menyelesaikan  tugas c dan d terlebih dahulu, sedangkan untuk tugas b, seseorang itu harus  menyelesaikan terlebih dahulu tugas e, f, dan g. Agar lebih jelas, perhatikanlah  gambar berikut
KAPABILITAS
A
B
C
D
F
G
E
 







Gagne mengemukakan 5 macam hasil belajar atau kapabilitas tiga bersifat kognitif, satu bersifat afektif dan satu bersifat psikomotor. Gagne membagi hasil belajar menjadi lima kategori kapabilitas sebagai berikut : (Ali Muhammad H, 2008)
1.      Informasi verbal
Kapabilitas informasi verbal merupakan kemampuan untuk mengkomunikasikan secara lisan pengetahuannya tentang fakta-fakta. Informasi verbal diperoleh secara lisan, membaca buku dan sebagainya. Informasi ini dapat diklasifikasikan sebagai fakta, prinsip, nama generalisasi.  Contoh, siswa dapat menyebutkan dalil Phytagoras yang berbunyi, “pada segitiga siku-siku berlaku kuadrat sisi miring sama dengan jumlah kuadrat sisi-sisi siku-sikunya.
2.      Keterampilan Intelektual
 Kapabilitas keterampilan intelektual merupakan  kemampuan untuk dapat membedakan, menguasai konsep, aturan, dan memecahkan masalah. Kemampuan-kemampuan tersebut diperoleh melalui belajar. Kapabilitas  keterampilan intelektual menurut Gagne dikelompokkan dalam 8 tipe belajar yaitu, belajar isyarat, belajar stimulus respon, belajar rangkaian gerak, belajar rangkaian verbal, belajar memperbedakan, belajar pembentukan konsep belajar pembentukan aturan, dan belajar pemecahan masalah. Tipe belajar tersebut terurut kesukarannya dari yang paling sederhana (belajar isyarat) sampai kepada yang paling kompleks belajar pemecahan masalah.

a.       Belajar Isyarat
 Belajar isyarat adalah belajar yang tidak diniati atau tanpa kesengajaan, timbul sebagai akibat suatu rangsangan (stimulus) sehingga menimbulkan suatu respon emosional pada individu yang bersangkutan. Sebagai contoh, sikap guru yang sangat menyenangkan siswa, dan membuat siswa yang mengikuti pelajaran guru tersebut menyenangi pelajaran yang diajarkan oleh guru tersebut. Contoh yang lain, misal pada suatu kelas yang diberikan pelajaran kimia, seorang anak  yang tak dapat mengerjakan soal kimia tersebut dicemoohkan oleh guru.  Karena cemoohan guru tersebut anak tidak dapat menyenangi pelajaran kimia

b.      Belajar stimulus respon
Belajar stimulus respon adalah belajar untuk merespon suatu isyarat, berbeda dengan pada belajar isyarat pada tipe belajar ini belajar yang dilakukan diniati atau sengaja dan dilakukan secara fisik. Belajar stimulus respon menghendaki suatu stimulus yang datangnya dari luar sehingga menimbulkan  terangsangnya otot-otot kemudian diiringi respon yang dikehendaki sehingga terjadi hubungan langsung yang terpadu antara stimulus dan respon. Misalnya siswa siswa melakukan praktikum uji lakmus setelah dicontoh oleh guru secara demonstrasi

c.       Belajar rangkaian gerak
 Belajar rangkaian gerak merupakan perbuatan jasmaniah terurut dari dua kegiatan atau lebih stimulus respon. Setiap stimulus respon dalam suatu  rangkaian berhubungan erat dengan stimulus respon yang lainnya yang masih  dalam rangkaian yang sama. Sebagai contoh, misalnya seorang anak akan menggambar sebuah lingkaran yang pusat dan panjang jari-jarinya diketahui. Untuk melakukan kegiatan tersebut anak tadi melakukan beberapa langkah terurut yang saling berkaitan satu sama lain. Kegiatan tersebut terdiri dari  rangkaian stimulus respon, dengan langkah-langkah sebagai berikut : anak memegang sebuah jangka, meletakkan salah satu ujung jangka pada sebuah titik yang telah ditentukan menjadi pusat lingkaran tersebut, kemudian mengukur jarak dari titik tadi, setelah itu  meletakkan ujung jangka lainnya sesuai dengan panjang jari-jari, lalu memutar jangka tersebut

d.      Belajar rangkaian verbal
 Pada belajar rangkaian verbal merupakan perbuatan lisan. Jadi, belajar rangkaian verbal adalah perbuatan lisan terurut dari dua kegiatan atau lebih stimulus respon. Setiap stimulus respon dalam satu rangkaian berkaitan dengan stimulus respon lainnya yang masih dalam rangkaian yang sama. Contoh, ketika mengamati suatu benda terjadilah hubungan stimulus respon yang kedua, yang memungkinkan anak tersebut menamai benda yang diamati tersebut. Contoh dalam kimia, seorang anak mengamati larutan yang sedang sedang diuji dengan alat uji elektrolit hasilnya menunjukkan bahwa lampunya nyala terang dan gelembungnya banyak sehingga anak tersebut menyebutkan larutan tersebut larutan elektrolit kuat
e.       Belajar memperbedakan
 Belajar memperbedakan adalah belajar membedakan hubungan stimulus respon  sehingga bisa memahami bermacam-macam objek fisik dan konsep, dalam merespon lingkungannya, anak membutuhkan keterampilan-keterampilan  sederhana sehingga dapat membedakan suatu objek dengan objek lainnya, dan  membedakan satu simbol dengan simbol lainnya. Terdapat dua macam belajar memperbedakan yaitu memperbedakan tunggal dan memperbedakan jamak. Contoh membedakan tunggal. “siswa dapat menyebutkan  segitiga sebagai  lingkungan tertutup sederhana yang terbentuk dari gabungan tiga buah ruas garis”. Contoh memperbedakan jamak, siswa dapat menyebutkan perbedaan dari  dua jenis segitiga berdasarkan besar sudut dan sisi-sisinya. Berdasarkan besar sudut yang paling besar adalah sudut siku-siku dan sisi terpanjang adalah sisi miringnya, sementara pada segitiga sama sisi besar sudut-sudutnya sama begitu pula dengan besar sisi-sisinya.  

f.       Belajar Pembentukan Konsep  
 Belajar Pembentukan Konsep adalah belajar mengenal sifat bersama dari bendabenda konkret, atau peristiwa untuk mengelompokkan menjadi satu. Misalnya untuk memahami konsep persegipanjang anak mengamati daun pintu rumah (yang bentuknya persegi panjang) papan tulis, bingkai foto (yang bentuknya persegipanjang) dan sebagainya. Untuk hal-hal tertentu belajar pembentukan  konsep merupakan lawan dari belajar memperbedakan. Belajar memperbedakan  menginginkan anak dapat membedakan objek-objek berdasarkan karakteristiknya  yang berlainan, sedangkan belajar pembentukan konsep menginginkan agar anak dapat mengklasifikasikan objek-objek ke dalam kelompok-kelompok yang  memiliki karakteristik sama.

g.      Belajar Pembentukan Aturan  
 Aturan terbentuk berdasarkan konsep-konsekonsep yang sudah dipelajari. Aturan merupakan pernyataan verbal, dalam matematika misalnya adalah: teorema, dalil, atau sifat-sifat. Contoh aturan dalam segitiga siku-siku berlaku kuadrat sisi miring sama dengan jumlah kuadrat sisi-sisi siku-sikunya. Dalam belajar pembentukan aturan memungkinkan anak untuk dapat menghubungkan dua konsep atau lebih. Sebagai contoh, terdapat sebuah segitiga dengan sisi siku-sikunya berturut-turut mempunyai panjang 3 cm dan 4 cm. Guru meminta anak untuk menentukan panjang sisi miringnya. Untuk menghitung panjang sisi miringnya, anak memerlukan suatu aturan Pythagoras yang berbunyi “pada suatu segitiga siku-siku berlaku kuadrat sisi miring sama dengan jumlah kuadrat sisi siku-sikunya”. Dengan menggunakan aturan di atas diperoleh 32 + 42 = 25 = 52, jadi panjang sisi miring yang ditanyakan adalah 5 cm.

h.      Belajar memecahkan masalah (problem solving)
Belajar memecahkan masalah adalah tipe belajar yang lebih tinggi derajatnya dan lebih kompleks daripada tipe belajar aturan (rule learning). Pada tiap tipe belajar memecahkan masalah, aturan yang telah dipelajari terdahulu untuk membuat formulasi penyelesaian masalah. Contoh belajar memecahkan masalah mencari perbedaan asam basa dengan uji lakmus. Mencelupkan kertas lakmus kedalam satu larutan maka akan terlihat jika kerta lakmus biru itu berwarna merah maka larutan tersebut bersifat asam, tetapi jika kertas lakmus merah yang berwarna biru maka larutan tersebut basa.

3.      Strategi Kognitif Kapalilitas
strategi kognitif adalah kemampuan untuk mengkoordinasikan serta mengembangkan proses berpikir dengan cara merekam, membuat analisis dan sintesis. Kapabilitas ini terorganisasikan secara internal sehingga memungkinkan perhatian, belajar, mengingat, dan berfikir anak terarah. Contoh tingkah laku akibat kapabilitas strategi kognitif, adalah menyusun langkah-langkah penyelesaian masalah matematika.

4.      Sikap
Kapabilitas sikap adalah kecenderungan untuk merespon secara tepat terhadap stimulus atas dasar penilaian terhadap stimulus tersebut. Respon yang diberikan oleh seseorang terhadap suatu objek mungkin positif mungkin pula negatif, hal ini tergantung kepada penilaian terhadap objek yang dimaksud, apakah sebagai objek yang penting atau tidak. Contoh, seseorang memasuki toko buku yang didalamnya tersedia berbagai macam jenis buku, bila orang tersebut memiliki sikap positif terhadap matematika, tentunya sikap terhadap matematika yang dimiliki mempengaruhi orang tersebut dalam memilih buku matematika atau buku yang lain selain buku matematika.

5.      Keterampilan Motorik
Untuk mengetahui seseorang memiliki kapabilitas keterampilan motorik, kita dapat melihatnya dari segi kecepatan, ketepatan, dan kelancaran gerakan otot-otot, serta anggota badan yang diperlihatkan orang tersebut. Kemampuan dalam mendemonstrasikan alat-alat peraga matematika merupakan salah satu contoh tingkah laku kapabilitas ini. Contoh lain yang lebih sederhana misalnya kemampuan menggunakan penggaris, jangka, sampai kemampuan menggunakan alat-alat tadi untuk membagi sama panjang suatu garis lurus.

(3). Kondisi atau tipe pembelajaran
Kondisi internal adalah:
1.      Keadaan di dalam dari individu yang diperlukan untuk mencapai hasil pembelajaran.
2.      Proses kognitif yang terjadi dari dalam individu selama proses pembelajaran berlangsung.
Kondisi eksternal adalah berbagai rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran. Interaksi antara kondisi internal dan kondisi eksternal menghasilkan hasil pembelajaran.
Sumber ; (Gredler, 2012, hal. 178)
Kondisi Belajar Internal                                              Hasil Belajar
Keadaan internal pemelajar dan proses kognitif
                                                                                    Informasi verbal
                                                                                       Kerampilan Intelektual
                                                                                            Kerampilan motorik       
                                                                                                Sikap
                                                                                                      Strategi Kognitif
 

Berinteraksi  dengan

Stimuli dari Lingkungan
                                               
   Kegiatan Instruksi                                                   

Kondisi Belajar Eksterrnal
Kondisi Belajar Interal menurut gagne adalah kondisi belajar internal terdiri dari a) prasyarat internal untuk mempelajari kapabilitas tertentu dan b) seperangkat proses kognitif yang terlibat di dalam belajar. Prasyarat Internal ada dua keadaan yaitu prasyarat esensial dan prasyarat pendukung. Prasyarat pendukung adalah kemampuan yang memfasilitasi belajar dalam lima ragam belajar atau lintas katagori. Sikap percaya diri dalam belajar adalah salah satu contoh yang relevan untuk semua ragam belajar. Prasyarat eksensial adalah keterampilan tertentu yang menjadi integral dari belajar baru  (Gredler, 2012, hal. 184)
Kondisi belajar eksternal menurut gagne untuk lima unit ragam adalah hasil pembelajaran yang merupakan merupakan keluaran dari pemrosesan yang berupa kecakapan manusia (Human Capabilities) yang terdiri atas: (Gredler, 2012, hal. 203)

Persiapan belajar
Kegiatan Pembelajaran
Transfer belajar
Informasi verbal
Mengaitkan materi baru dengan kerangka informasi pemelajar
Memberikan konteks informasi yang bermakna untuk penyandian. Memberikan elaborasi pencitraa, atau petunjuk penyadian lain. Untuk isis pengetahuan , informasi disajikan sehingga dapat dipelajari sepotong demi sepotong
Memberi petunjuk untuk relevansi dan generalsiasi yang efektif
Keterampilan Intelektual
Menstimulasi pengingatan keterampilan prasyarakat
Memberikan contoh konkret dan aturan yang bervariasi. Memberikan kesempatan berinterakis dengan contoh-contoh melalui cara yang berbeda-beda. Memberi asesmen dalam situasi baru
Menggunakan beragam konteks dan situasi baru untuk meningkatkan transfer
Strategi kognitif
Menunculkan ingatan ketrampilan intelektual yang dibtuhkan
Jika tugas spesifik, mendeskripsikan strategi; jika umum, tunukkan strategi. Memberi kesempatan untuk melatih strategi dengan dukungan dan umpan balik
Memberik maslaah yang belum diakrabi untuk pemanfaatan strategi
Keterampilan motorik
Menunjukan kinerja keterampilan yang akan dipelajari. Menstimulasi ingatan sebagian keterampilan jika diperlukan
Membangun subrutin pelaksanaan dan memberikan peluang untuk pelatihan mental. Mengatur beberapa pengulangan keterampilan dengan tanggapan korektif
Menyediakan kesempatan melakukan keterampilan dalam latar fidik yang baru
sikap
Pemelajar tidak secara langsung diberi informasi tentang tujuan. Memastikan agar pemelajar menghargai model
Memberikan penghargaan pada model yang melakukan perilaku positif dan memperkuat model. Ketika pemelajar melakukan perilaku itu beri dia penguatan
Memberi kesempatan pemelajar untuk melanjutkan pelaksanaan perilaku, dan memberi penguatan

1.      Informasi Verbal
Informasi verbal adalah hasil pembelajaran yang berupa informasi yang dinyatakan dalam bentuk verbal (kata-kata atau kalimat) baik secara tertulis atau lisan. Informasi verbal adalah berupa pemberian nama atau label terhadap suatu benda atau fakta, pemberian definisi atau pengertian, atau perumusan mengenai berbagai hal dalam bentuk verbal.

2.      Kecakapan Intelektual
Kecakapan intelektual adalah kecakapan individu dalam melakukan interaksi dengan lingkungan yang menggunakan simbol-simbol. Misalnya simbol-simbol dalam bentuk matematik, seperti penambahan, pengurangan, pembagian, perkalian dan sebagainya. Kecakapan intelektual ini mencakup kecakapan dalam membedakan (diskriminasi). Konsep intelektual sangat diperlukan dalam menghadapi pemecahan masalah.

3.      Strategi Kognitif
Strategi kognitif ialah kecakapan individu untuk melakukan pengendalian dan mengelola (management) keseluruhan aktifitasnya. Dalam proses pembelajaran, strategi kognitif ini kemampuan mengendalikan ingatan dan cara-cara berfikir agar terjadi aktifitas yang efektif. Kalau kecakapan intelektual lebih banyak terarah kepada proses pemikiran pelajar. Strategi kognitif ini memberikan kemudahan bagi para pelajar untuk memilih informasi verbal dan kecakapan intelektual yang sesuai untuk diterapkan selama proses pembelajaran dan berfikir. Berbagai macam sttrategi kognitif antara lain : (Dahar, 2012, hal. 122-123)

a.       Strategi menghapal
Siswa melakukan latihan mereka sendiri tentang materi yang dipelajari . contohnya : latihan mengulang nama-nama dalam suatu urutan seperti nama-nama pahlawan nasional

b.      Strategi elaborasi
Siswa mengasosiasikan hal-hal yang akan dipelajari dengan bahan-bahan yang tersedia. Contohnya pembautan ringkasan dari materi pelajaran

c.       Strategi pengaturan
Siswa menyusun materi yang akan dipelajari ke dalam kerangka yang teratur menjadi kategori-kategori yang bermakna

d.      Strategi metakognitif
Metakognitif, yang melandasi strategi kognitif merupakan keterampilan siswa dalam mengatur dan mengontrol proses berpikirnya (Preisseisen, 1985)  dalam (Rumate, 2005), meliputi :

1.      Keterampilan pemecahan masalah (problem solving), yaitu keterampilan individu dalam menggunakan proses berpikirnya untuk memecahkan masalah melalui pengumpulan fakta, analisis informasi, menyusun berbagai alternatif pemecahan, dan memilih penyelesaian masalah yang efektif.

2.      Kemampuuan pengambilan keputusan (decision making), yaitu keterampilan individu dalam menggunakan proses berpikirnya untuk memilih suatu keputusan yang terbaik dari beberapa pilihan yang ada melalui pengumpulan informasi, perbandingan kebaikan dan kekurangan setiap alternatif, analisis informasi, dan pengambilan keputusan yang terbaik berdasarkan alasan-alasan yang rasional.

3.      Kemampuan berpikir kritis (critical thinking), yaitu keterampilan individu dalam menggunakan proses berpikirnya untuk menganalisis argumen dan memberikan interpretasi berdasarkan persepsi yang sahih melalui “logical reasoning” , analisis asumsi dan bias dari argumen, dan interpretasi logis.

4.      Keterampilan berpikir kreatif (creative thinking), yaiyu keterampilan individu dalam menggunakan proses berpikirnya untuk menghasilkan suatu ide yang baru dan konstruktif, berdasarkan konsep-konsep, dan prinsip-prinsip yang rasional maupun persepsi dan intuisi individu

Keterampilan-Keterampilan tersebut tidak terpisah melainkan terintegrasi satu dengan yang lain. Jadi pada saat bersamaan ketika mahasiswa menggunakan strategi kognitifnya untuk memecahkan masalah, dia juga menggunakan keterampilannya untuk mengambil keputusan, berpikir kritis, dan berpikir kreatif.
e.       Strategi afektif
Teknik digunakan para siswa untuk memusatkan dan mempertahankan perhatian untuk mengendalikan kemarahan dan menggunakan waktu secara efektif.

4.      Sikap
Sikap ialah hasil pembelajaran yang berupa kecakapan individu untuk memilih berbagai tindakan yang akan dilakukan. Dengan kata lain, sikap dapat diartikan sebagai keadaan didalam diri individu yang akan member arah kecenderungan bertindak dalam menghadapi suatu objek atau rangsangan. Dalam sikap terdapat pemikiran, peradaan yang menyertai pemikiran, dan kesiapan untuk bertindak.

5.      Kecakapan Motorik
Kecakapan motorik ialah  hasil pembelajaran yang berupa kecakapan pergerakan yang dikontrol oleh otot dan fisik.






(4). Hubungan fase-fase dengan KEJADIAN=KEJADIAN BELAJAR
(Dahar, 2012, hal. 130)
PEMANGGILAN
KODING MULAI PENYIMPANAN
TRANSFER
PEMBERIAN RESPON
REINFORCEMENT
HARAPAN
PERHATIAN PERSEPSI SELEKTIF
PENYIMPANAN MEMORI
FASE MOTIVASI                                                1.  mengaktifk motivasi
                                                         
                                                          2.Memberi tahu tujuan belajar    
       FASE PENGENALAN
                                                                             3.Mengarahkan perhatian

          FASE PEROLEHAN
                                                                             4.Merangsang ingatan
         5.Menyediakan bimbingan
                FASE RETENSI
                                          

                        FASE PEMANGGILAN
                                                                                 6.Melancarkan retensi

                                 FASE GENERALISASI
                                                                                   7. Melancarkan
                                                                                       transfer beljar
                                      FASE PENAMPILAN
                                                                                      memperlihatkan
                                                                                      penampilan
                                              FASE UMPAN BALIK                  memberikan
                                                                                                             Umpan balik

                 Berdasarkan analisisnya tentang kejadian-kejadian belajar, Gagne (Dahar, 2012, hal. 126-130) menyarankan adanya kejadian-kejadian instruksi yang ditujukan pada guru dalam menyajikan suatu pelajaran pada sekelompok siswa. Kejadian-kejadian instruksi itu adalah:
1.      Mengaktifkan Motivasi
Langkah pertama dalam pembelajaran adalah memotivasi para siswa untuk belajar. Kerap kali ini dilakukan dengan membangkitkan perhatian mereka dalam isi pelajaran, dan mengemukakan kegunaannya.
2.       Memberitahu Tujuan-tujuan Belajar
Kejadian instruksi kedua ini sangat erat kaitannya dengan kejadian instruksi pertama. Sebagiandari mengaktifkan motivasi para siswa ialah dengan memberitahu mereka tentang mengapa mereka belajar, apa yang mereka pelajari, dan apa yang akan mereka pelajari. Memberi tahu tujuan belajar juga menolong memusatkan perhatian para siswa terhadap aspek-aspek yang relevan tentang pelajaran.
3.      Mengarahkan Perhatian
Gagne mengemukakan dua bentuk perhatian. Bentuk perhatian pertama berfungsi untuk membuat siswa siap menerima stimulus-stimulus. Bentuk kedua dari perhatian disebut persepsi selektif. Dengan cara ini siswa memperoleh informasi yang mana yang akan diteruskan ke memori jangka pendek, cara ini dapat ditolong dengan cara mengeraskan suara pada suatu kata atau menggaris bawah suatu kata atau beberapa kata dalam satu kalimat. 
4.      Merangsang Ingatan
Menurut Gagne bagian yang paling kritis dalam proses belajar adalah pemberian kode pada informasi yang berasal darimemori jangka pendek yang disimpan dalam memori jangka panjang. Guru dapat berusaha untuk menolong siswa-siswa dalam mengingat atau mengeluarkan pengetahuan yang disimpan dalam memori jangka panjang itu. Cara menolong ini dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaanpada siswa, yang merupakan suatu cara pengulangan. 
5.       Menyediakan Bimbingan Belajar
Untuk memperlancar masuknya infomasi ke memori jangka panjang, diperlukan bimbingan langsung dalam pemberian kode pada informasi. Untuk mempelajari informasi verbal, bimbingan itu dapat diberikan dengan cara mengkaitkan informasi baru itu dengan pengalaman siswa.
6.      Meningkatkan Retensi
Retensi atau bertahannya materi yang di pelajari (jadi tidak terlupakan) dapat diusahakan oleh guru dan siswa itu sendiri dengan cara sering mengulangi pelajaran itu. Cara lain adalah dengan memberi banyak contoh, menggunakan tabel-tabel, menggunakan diagram-diagram dan gambar-gambar.
7.       Melancarkan Transfer Belajar
Tujuan transfer belajar adalah menerapkan apa yang telah dipelajari pada situasi baru. Untuk dapat melaksanakan ini para siswa tentu diharapkan telah menguasai fakta-fakta, konsep-konsep, dan keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan.
8.       Mengeluarkan Penampilan dan Memberikan Umpan Balik
Hasil belajar perlu diperlihatkan melalui suatu cara, agar guru dan siswa itu sendiri mengetahui apakah tujuan belajar telah tercapai. Untuk itu sebaiknya guru tidak menunggu hingga seluruh pelajaran selesai. Sebaiknya guru memberikan kesempatan sedini mungkin pada siswa untuk memperlihatkan hasil belajar mereka, agar dapat diberi umpan balik, sehingga pelajaran selanjutnya berjalan dengan lancar. Cara-cara yang dilakukan adalah pemberian tes atau mengamati prilaku siswa umpan balik bila bersifa positif menjadi pertanda bagi siswa bahwa ia telah mencapai tujuan belajar.  

Skinner membuat eksperimen sebagai berikut: dalam laboratorium, Skinner memasukkan tikus yang telah dilaparkan dalam kotak yang disebut “Skinner box”, yang sudah dilengkapi dengan berbagai peralatan, yaitu tombol, alat memberi makanan, penampung makanan, lampu yang dapat diatur nyalanya, dan lantai yang dapat dialiri listrik. Jelaskan pendapat saudara, apa saja yang diperoleh Skiner berdasarkan skiner box tersebut, dan bagaimana bila hasil skiner box tersebut setelah digunakan untuk manusia “

Aplikasi Teori Skinner

Teori Penguatan

 B.F. Skinner (Gredler, 2012, hal. 14)berkebangsaan Amerika dikenal sebagai tokoh behavioris dengan pendekatan model instruksi langsung (directed instruction) dan meyakini bahwa perila  ku dikontrol melalui proses operant conditioning. Gaya mengajar guru dilakukan dengan beberapa pengantar dari guru secara searah dan dikontrol guru melalui pengulangan (drill) dan latihan (exercise). Manajemen kelas menurut Skinner adalah berupa usaha untuk memodifikasi perilaku (behavior modification) antara lain dengan penguatan (reinforcement) yaitu memberi penghargaan pada perilaku yang diinginkan dan tidak memberi imbalan pada perilaku yang tidak tepat. Operant Concitioning atau pengkondisian operan adalah suatu proses penguatan perilaku operan (penguatan positif atau negatif) yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat berulang kembali atau menghilang sesuai dengan keinginan. Skinner lebih percaya kepada apa yang disebut sebagai penguat negatif. Penguat negatif tidak sama dengan hukuman. Ketidaksamaannya terletak pada bila hukuman harus diberikan (sebagai stimulus) agar respon yang muncul berbeda dengan respon yang sudah ada, sedangkan penguat negatif (sebagai stimulus) harus dikurangi agar respon yang sama menjadi semakin kuat. Misalnya, seorang pebelajar perlu dihukum karena melakukan kesalahan. Jika pebelajar tersebut masih saja melakukan kesalahan, maka hukuman harus ditambahkan. Tetapi jika sesuatu tidak mengenakkan pebelajar (sehingga ia melakukan kesalahan)  dikurangi (bukan malah ditambah) dan pengurangan ini mendorong pebelajar untuk memperbaiki kesalahannya, maka inilah yang disebut penguatan negatif. Lawan dari penguatan negatif adalah penguatan positif (positive reinforcement). Keduanya bertujuan untuk memperkuat respon. Namun bedanya adalah penguat positif menambah, sedangkan penguat negatif adalah mengurangi agar memperkuat respons Perilaku operan adalah perilaku yang dipancarkan secara spontan dan bebas berbeda dengan perilaku responden dalam pengkondisian Pavlov yang muncul karena adanya stimulus tertentu. Contoh perilaku operan yang mengalami penguatan adalah: anak kecil yang tersenyum mendapat permen oleh orang dewasa yang gemas melihatnya, maka anak tersebut cenderung mengulangi perbuatannya yang semula tidak disengaja atau tanpa maksud tersebut. Tersenyum adalah perilaku operan dan permen adalah penguat positifnya.
                 Skinner membuat eksperimen sebagai berikut: dalam laboratorium, Skinner memasukkan tikus yang telah dilaparkan dalam kotak yang disebut “Skinner box”, yang sudah dilengkapi dengan berbagai peralatan, yaitu tombol, alat memberi makanan, penampung makanan, lampu yang dapat diatur nyalanya, dan lantai yang dapat dialiri listrik. Karena dorongan lapar (hunger drive), tikus berusaha keluar untuk mencari makanan. Selama tikus bergerak kesana-kemari untuk keluar dari box, tidak sengaja ia menekan tombol, makanan keluar. Secara terjadwal diberikan makanan secara bertahap sesuai peningkatan perilaku yang ditunjukkan si tikus, proses ini disebut shaping. Skinner menyatakan bahwa unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan (reinforcement). Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus-respon akan semakin kuat bila diberi penguatan.  Skinner membagi penguatan ini menjadi dua, yaitu penguatan positif. Penguatan positif sebagai stimulus, dapat meningkatkan terjadinya pengulangan tingkah laku itu sedangkan penguatan negatif dapat mengakibatkan perilaku berkurang atau menghilang. Bentuk-bentuk penguatan positif adalah berupa hadiah (permen, kado, makanan, dll), perilaku (senyum, menganggukkan kepala untuk menyetujui, bertepuk tangan, mengacungkan jempol), atau penghargaan (nilai A, Juara 1 dsb). Bentuk-bentuk penguatan negatif antara lain: menunda/tidak memberi penghargaan, memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang (menggeleng, kening berkerut, muka kecewa dll). Beberapa prinsip belajar Skinner antara lain:
1.      Hasil belajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan, jika benar diberi penguat.
2.      Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar
3.      Materi pelajaran, digunakan sistem modul.
4.      Dalam proses pembelajaran, lebih dipentingkan aktivitas sendiri.
5.      Dalam proses pembelajaran, tidak digunakan hukuman. Namun ini lingkungan perlu diubah, untuk menghindari adanya hukuman.
6.      Tingkah laku yang diinginkan pendidik, diberi hadiah, dan sebagainya. Hadiah diberikan dengan   digunakannya jadwal variable rasio reinforcer.
7.      Dalam pembelajaran, digunakan shaping.
B.    Aplikasi Teori Skinner Terhadap Pembelajaran
1.      Bahan yang dipelajari dianalisis sampai pada unit-unit secara organis.
2.      Hasil berlajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan dan jika benar diperkuat.
3.      Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.
4.      Materi pelajaran digunakan sistem modul.
5.      Tes lebih ditekankan untuk kepentingan diagnostic.
6.      Dalam proses pembelajaran lebih dipentingkan aktivitas sendiri.
7.      Dalam proses pembelajaran tidak dikenakan hukuman.
8.      Dalam pendidikan mengutamakan mengubah lingkungan untuk mengindari pelanggaran agar tidak menghukum.
9.      Tingkah laku yang diinginkan pendidik diberi hadiah.
10.  Hadiah diberikan kadang-kadang (jika perlu).
11.  Tingkah laku yang diinginkan, dianalisis kecil-kecil, semakin meningkat mencapai tujuan. 
12.  Dalam pembelajaran sebaiknya digunakan shaping.
13.   Mementingkan kebutuhan yang akan menimbulkan tingkah laku operan.
14.  Dalam belajar mengajar menggunakan teaching machine.
15.   Melaksanakan mastery learning yaitu mempelajari bahan secara tuntas menurut waktunya    masing-masing karena tiap anak berbeda-beda iramanya. Sehingga naik atau tamat   sekolah dalam waktu yang berbeda-beda. Tugas guru berat, administrasi kompleks
C.    Kelebihan dan Kekurangan Teori Skinner
1.Kelebihan
              Pada teori ini, pendidik diarahkan untuk menghargai setiap anak didiknya. hal ini ditunjukkan dengan dihilangkannya sistem hukuman. Hal itu didukung dengan adanya pembentukan lingkungan yang baik sehingga dimungkinkan akan meminimalkan terjadinya kesalahan.

2.   Kekurangan 
              Tanpa adanya sistem hukuman akan dimungkinkan akan dapat membuat anak didik menjadi kurang mengerti tentang sebuah k  edisiplinan. hal tersebuat akan menyulitkan lancarnya kegiatan belajar-mengajar. Dengan melaksanakan mastery learning, tugas guru akan menjadi semakin berat. Beberapa Kekeliruan dalam penerapan teori Skinner adalah penggunaan hukuman sebagai salah satu cara untuk mendisiplinkan siswa. Menurut Skinner hukuman yang baik adalah anak merasakan sendiri konsekuensi dari perbuatannya. Misalnya anak perlu mengalami sendiri kesalahan dan merasakan akibat dari kesalahan. Penggunaan hukuman verbal maupun fisik seperti: kata-kata kasar, ejekan, cubitan, jeweran justru berakibat buruk pada siswa.
                Selain itu kesalahan dalam reinforcement positif juga terjadi didalam situasi pendidikan seperti penggunaan rangking Juara di kelas yang mengharuskan anak menguasai semua mata pelajaran. Sebaliknya setiap anak diberi penguatan sesuai dengan kemampuan yang diperlihatkan sehingga dalam satu kelas terdapat banyak penghargaan sesuai dengan prestasi yang ditunjukkan para siswa: misalnya penghargaan di bidang bahasa, matematika, fisika, menyanyi, menari atau olahraga.

2.    Teori Kondisioning
Operan Menurut B.F.Skiner  Kondisian operan adalah sebentuk pembelajaran dimana konsekuensi-konsekuensi dari prilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas prilaku itu akan diulangi. Inti dari teori behaviorisme Skinner adalah Pengkondisian operan (kondisioning operan). Ada 6 asumsi yang membentuk landasan untuk kondisioning operan (Gredler, 2012, hal. 128). Asumsi-asumsi itu adalah sebagai berikut:
a.            Belajar itu adalah tingkah laku.
b.           Perubahan tingkah-laku (belajar) secara fungsional berkaitan dengan adanya perubahan dalam kejadian-kejadian di lingkungan kondisi-kondisi lingkungan.
c.            Hubungan yang berhukum antara tingkah-laku dan lingkungan hanya dapat di tentukan kalau sifat-sifat tingkah-laku dan kondisi eksperimennya di devinisikan menurut fisiknya dan di observasi di bawah kondisi-kondisi yang di control secara seksama.
d.           Data dari studi eksperimental tingkah-laku merupakan satu-satunya sumber informasi yang dapat di terima tentang penyebab terjadinya tingkah laku.
Menurut Skinner (Santrock, hal. 272) unsur yang terpenting dalam belajar adalah adanya penguatan (reinforcement ) dan hukuman (punishment).Penguatan dan Hukuman. Penguatan (reinforcement) adalah konsekuensi yang meningkatkan probabilitas bahwa suatu perilaku akan terjadi. Sebaliknya, hukuman (punishment) adalah konsekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku.
Menurut Skinner penguatan berarti memperkuat, penguatan dibagi menjadi dua bagian yaitu :
a.       Penguatan positif adalah penguatan berdasarkan prinsif bahwa frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan stimulus yang mendukung (rewarding). Bentuk-bentuk penguatan positif adalah berupa hadiah (permen, kado, makanan, dll), perilaku (senyum, menganggukkan kepala untuk menyetujui, bertepuk tangan, mengacungkan jempol), atau penghargaan (nilai A, Juara 1 dsb).
b.      Penguatan negatif, adalah pe  nguatan berdasarkan prinsif bahwa frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang merugikan (tidak menyenangkan). Bentuk-bentuk penguatan negatif antara lain: menunda/tidak memberi penghargaan, memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang (menggeleng, kening berkerut, muka kecewa dll).
Satu  cara untuk mengingat perbedaan antara penguatan positif dan penguatan negatif adalah dalam penguatan positif ada sesuatu yang ditambahkan atau diperoleh. Dalam penguatan negatif, ada sesuatu yang dikurangi atau di hilangkan. Adalah mudah mengacaukan penguatan negatif dengan hukuman. Agar istilah ini tidak rancu, ingat bahwa penguatan negatif meningkatkan probabilitas terjadinya suatu prilaku, sedangkan hukuman menurunkan probabilitas terjadinya perilaku. Contoh dari konsep penguatan positif, negatif, dan hukuman (Santrock, hal. 274)
A.Penguatan positif.
             Perilaku Murid mengajukan pertanyaan yang bagus    Konsekuensi Guru menguji murid    Prilaku kedepan Murid mengajukan lebih banyak pertanyaan




Daftar Pustaka
(Depdiknas, 2. (2005). TEORI Belajar dan Pembelajaran .
Ali Muhammad H, D. (2008). Guru dalam Proses Belajara Mengajar. Bandung: Sinar Baru
 Algensindo.
Dahar, R. W. (2012). Teori-Teori Belajar & Pembelajaran. Jakarta: Erlangga.
Dimyati. (2005).
Gredler, M. E. (2012). Learning and Intruction. Jakarta: Kecana prenada Media Grouf.
Rumate, A. D. (2005). Strategi Kognitif dalam pembelajaran. Jakarta: Universitas
            Hasanudin..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar